Friday, 5 December 2008 (08:31) | 47 views | 1 komentar | Print this Article
Maman S. Mahayana
Gemuruh puisi “Penyair Rencong” Fikar W. Eda membawa hipnotis. Ia menyihir, menciptakan hening. Tak biasa suaranya agak tersendat, berat dan merintih. Selepas itu, ia terhenyak. Lunglai. Jelas, hatinya pecah. Ketika presenter Metro TV bertanya, Fikar tergagap seperti kehilangan akal. Ada bening kaca menetes dari matanya. Di rumah, di depan layar kaca, kami ikut terisak. Tak kuasa memandang tayangan tv tentang tsunami yang terjadi Minggu pagi. Terhampar gelimpangan mayat membentang sepanjang jalan, berserakan di halaman masjid Baiturrahman, dan tersangkut di pojok-pojok selokan. Aceh meleleh, merobek hati kami. Rencong yang terpampang di dinding, seperti terbelah patah. Karismanya pudar. Gempa dan gelombang tsunami melengkapi derita panjang riwayat Aceh. Tuhan, belum cukupkah koyak-moyak luka duka mereka? Masih berapa jilid lagikah ensiklopedia Aceh akan kita baca dengan air mata? Kapan akan terbit sebuah jilid yang mengabarkan bahagia?
Aku ingat AA Manggeng, Ameer Hamzah, Azhari, Din Saja, Doel Allisah, Kemalawati, Hasbiburman, Hasyim KS, Rosni Idham, Mustafa Ismail, Wiratmadinata dan sederet nama yang sempat hinggap. Kini, di manakah mereka? Membaca tanda-tanda Taufiq Ismail menjeratku pada rindu tak terbendung. Manggeng, mengapa kau tak datang ke Bengkalis saat Purnama Kata digelar Taufik Ikram Jamil? Di sana, engkau juga berisyarat tanda-tanda tentang badai, prahara dan nestapa seorang ibu. Lukamu yang menganga masihkah kau simpan terjepit di antara cinta dan kesumat. Barangkali, kau tak sempat lagi memanggil malam yang meniduri luka-luka. Kini, Din juga tak perlu lagi gelisah memandangi hari-harinya bersama rangkaian nyawa yang melayang, pikulan keranda, dan kuburan dangkal. Kegalauan mata batinnya tentang deretan bencana sungguh telah menjadi kenyataan yang amat-sangat-dahsyat. Aceh dalam bahaya, begitu Din berisyarat cemas.
Saat Taufiq Ismail mengusung Beratus Ribu Pengungsi, kisah Ameer Hamzah tentang Sabang dan Blang Pidie, seperti sebuah paradoks. Mutiara di ujung barat nusantara dan becak tua yang mengantar keliling kota, pastilah tak dapat kita rasakan lagi. Mungkin, cukuplah ia menjadi catatan sejarah luka panjang saudara-saudaramu. Biarlah lelaki tua yang ditembak seusai salat –begitu dikatakan Ayi Jufridar— genap mengguratkan garis hitam masa lalu. Seperti Rosni Idham yang tak pernah berhenti mewartakan negerinya yang terluka. Benar katanya, “Lukamu luka kami semua” adalah isyarat. Dan kini jadi kenyataan: Aceh adalah luka kita semua!
Rosni apakah di belakangmu masih ada Kemalawati yang dalam Kelu-nya menganggap nyawa begitu murah? “Berapa harga mati,” tanyanya. Aku mengagumi kepenyairan keduanya yang teguh memancarkan semangat melalui metafora yang keras dan imaji yang pedas. Kini, dalam bayanganku, kedua penyair wanita yang tak gentar menerjang kematian saat berhadapan kezaliman itu, tiba-tiba menjelma Laksamana Keumalahayati dan Cut Nyak Dien. Mungkinkah mereka membangun kembali Kuta Inong Bale (Benteng Wanita Janda)? Aku tak sanggup berkata-kata. Selepas semua tumpas-tandas, aku ingat pertanyaan Wiratmadinata, Indonesia apalagi yang kauminta? atau seperti katamu, Rosni: masih Indonesiakah kau?
***
“Sungai ini dipenuhi mayat-mayat yang dihanyutkan. Berkali-kali sudah tubuh-tubuh itu sangkut di mata jaring, repot sekali ketika hendak melepaskannya, apalagi yang sangkut itu bagian telinga, jempol kaki, kemaluan, ataupun rahang. Setiap hari ada empat-lima tubuh yang mengapung.” Itulah sebagian yang dikisahkan Azhari tentang sungai yang penuh jasad, tentang jasad yang dibalut lumut, tentang lumut yang mengeringkan airmata.
Kini mayat-mayat itu tak lagi mengapung. Mereka bertebaran, berserak-serak. Azhari, pasti kau tak perlu lagi mencari bapakmu. Meski kau sudah akrab dengan bau mayat, kau tak mungkin lagi menemukannya dalam tumpukan yang tidak terhitung jumlahnya, tertutup plastik hitam, dan menyebar bau sengak. Tahukah kau, berapa banyak jasad yang tertutup plastik itu? Astagfirullah, jumlahnya menyamai penduduk Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam. Masih ingatkah kau saat pasukan Amerika melakukan intervensi, 25 Oktober 1983, ke sebuah negara di sebelah utara Amerika Latin, bernama Grenada? Tentu saja kita tidak berharap bencana terjadi di mana pun. Tetapi, bisa dibayangkan jika negeri itu mengalami bencana yang sama. Apa yang terjadi? Sekitar 20-an ribu penduduk yang tersisa, selebihnya lengang. Jadi, mustahil kau bersama kakekmu mengais-ngais deretan jasad itu untuk mencari bapakmu.
Azhari, aku gelisah. Di manakah kau sekarang? Semoga kau tak berada di sana. Tetapi, bagaimana aku yakin kau selamat, sementara kabar tentangmu, tak kunjung ada kepastian? Azhari, kau sastrawan cerdas-berbakat. Dari tanganmu, Aceh akan menjelma empati. Pesonanya akan memancar kekayaan estetik, seperti yang kerap kau rindukan hingga kau mencarinya sampai ke Hamzah Fansuri.
Ada e-mail dari Mustafa Ismail, saudara kita yang guru atau Mustafa lain? Entahlah. Siapa pun dia, aku bersyukur. Sebuah nyawa lagi selamat. Tetapi, ia juga tak berkabar tentang kau, tentang deretan nama yang kusebutkan tadi. Beberapa minggu lalu, di Cibubur, di tempat dan acara yang sama ketika cerpenmu menggenggam juara pertama, Mustafa berkabar tentang Aceh; keterjepitannya sebagai guru di tengah desing peluru yang meluncur dari berbagai penjuru, dari moncong senjata entah milik siapa. Ia menangisi sengketa. Tak ada tanda-tanda bencana. Seperti juga kepadamu, aku mengagumi Mustafa. Di balik kehangatan bicaranya yang renyah, kelembutan narasinya yang mengalir, kekuatan latarnya yang khas, aku merasakan luka yang tegas: Aceh yang terbelah, yang luka oleh saudaranya sendiri. Aceh yang tak pernah senyap nyalak senjata. Agaknya, kini saatnya rekonsialiasi. Segera, sekarang juga!
Kemarin itu datang Sutardji Calzoum Bachri, Hamsad Rangkuti, Ahmadun, Dinar Rahayu, Irwan Kelana, Mariana, Wowok, dan Fathien. Meski kali ini Richard Oh dan Djenar Maesa Ayu berhalangan, acaranya tak kalah menarik. Gaya khas Bang Tardji muncul saat menyanyi, juga Hudan Hidayat, sedang Bang Hamsad baca cerpen tentang penjabret dan dirinya yang tak bisa nyanyi. Tak pelak lagi, kesemarakan itu tak terlepas dari peran Ane Sanggar Matahari yang piawai memetik gitar. Bukankah Ane juga berasal dari komunitas Aceh? Bersama Fikar, Sanggar Matahari membentuk Kasuha (Kampanye Seni untuk Aceh). Mereka menebarkan damai. Di tengah lelah memandang darah yang terus tumpah dan sengketa puaknya yang tak kunjung sudah, Sanggar Matahari mengusung seni, musikalisasi puisi yang manis, rancak dan teduh. Aku mencintai mereka, mencintai Aceh! Tetapi kini Aceh di mana?
Aku mencarinya dalam puisi. Banyak nama dengan suara yang nyaris sama: Aceh sebagai Sang Kekasih. Lihatlah Rendra yang merindukan mata bayi, mengusung mata batin. Cintanya pada Aceh seperti mata air pengharapan. Tetapi, selepas bencana mahadahsyat itu, masihkah ada pengharapan tersisa di sana? Mungkin Tuhan punya rencana lain. Atau, inikah tanda seperti pernah dikatakan Emha Ainun Nadjib, “Tuhan menerjemahkan kerinduanNya/melalui kegelisahan mereka.
***
Saudaraku. Anakku menangis melihat tayangan video amatir yang disiarkan Metro TV. Ia merasa, Aceh bagian hidupnya. Aku sempat takjub, dari mana rasa persaudaraan itu muncul pada seorang anak SMP yang tak paham politik? Sekolah telah mengajarinya: Aceh tak beda dengan Jawa, Sunda, Papua, Madura atau Dayak. Bahkan, anakku bicara tentang cinta lintas budaya, agama, dan bangsa. Aku terharu. Mestinya, seperti inilah generasi Indonesia masa depan yang cinta atas nama manusia! Kau tahu, anakku membatalkan acara perayaan tahun baru. Ia ingin menunjukkan keprihatinannya, tak mau hura-hura saat saudaranya di ujung Sumatera masih dilanda duka-lara. Lalu, apa yang dilakukannya? Ia sibuk mencari kardus dan menempelkan secarik kertas bertuliskan: “Aksi Peduli Aceh”.
Anakku ternyata tidak sendirian. Sepanjang jalan, aksi serupa dilakukan para pelajar, mahasiswa, remaja masjid, dan para santri. Di beberapa Posko, timbunan pakaian bekas, mie instan, air mineral, beras, dan entah apalagi, mulai menggunung. Bahkan, itu terjadi juga di beberapa masjid dan gereja. Ajakan solat gaib terdengar dari pengeras suara seperti bersahutan dari masjid yang satu ke masjid yang lain. Beberapa gereja di Bogor yang kutahu, juga menyelenggarakan doa keprihatinan. Bencana Aceh serempak menumbuhkan tali solidaritas yang lebih kuat, meneguhkan semangat persaudaraan yang lebih kental—padat. Aceh memang bagian dari kita seperti dikatakan penyair Madura, Zawawi Imron, “Aku belum pernah berkunjung ke Aceh/Tapi Aceh selalu berdetak dalam jantungku.” Kami, sekeluarga, seperti merasa terwakili kegelisahannya. Itulah sebabnya, judul tulisan ini sengaja kupakai ujaran Zawawi Imron: “Aceh mendesah dalam nafasku.”
Kini desah itu terdengar makin mengiris nurani kemanusiaan kita. L.K. Ara yang memberi sinyal “SOS Aceh Tengah” dan meminta agar segera dikirim BBM dan beras, hanyalah sebagian kecil kebutuhan yang diperlukan saudara-saudara kita itu. Aceh memerlukan segalanya: membangun fisik dan psikis manusianya, mengangkat martabat dan marwahnya kembali, “dari sejarah Aceh yang mewah,” begitu Agus R. Sarjono menyatakan cintanya pada Aceh.
Aceh harus segera disulap: kembali menjadi negeri budaya dan salah satu poros jaringan intelektual, tempat banyak orang datang ke sana menimba ilmu seperti terjadi pada masa lalu; Aceh harus kembali menjadi kota perdagangan, tempat para gujarat dari mancanegara melakukan transaksi; Aceh harus membangun kembali jatidirinya di mana ketakwaan kepada Tuhan dan peribadatan sebagai umat beragama, kesetiakawanan sebangsa, persaudaraan dan cinta-kasih pada sesama manusia, tumbuh dan mengakar kuat dalam setiap sanubari warganya. Seperti kata Slamet Sukirnanto, “Biarkan generasi baru menghirup hidup/Rumpun yang segar dan subur.” Maka, Aceh, kembalikanlah keagunganmu!
(Maman S. Mahayana, pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok)
Tulisan lain yang berkaitan:
Tulisan berjudul "ACEH MENDESAH DALAM NAFASKU" dipublikasikan oleh Maman S. Mahayana (Friday, 5 December 2008 (08:31)) pada kategori Artikel. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon, atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
1 komentar terhadap “ACEH MENDESAH DALAM NAFASKU”
Komentar Anda?













sahrudin | Thursday, 25 December 2008 @ 12:28 pm
pak maman,
saya sahrudin, dari balangan, kalimantan selatan. hasil wawancara singkat kita usai penutupan aruh sastra V bisa dilihat di:
http://matabanua.com/banua/balangan/92-balangan/3368-sastra-balangan-eksotik-.html
itu adalah situs koran tempat saya bekerja sekarang. mudah-mudahan, sekali waktu pak maman dapat beranjangsana kembali di kalimantan selatan. dan jangan lupa, mampir ke balangan kalau ada waktu.
salam,
sahrudin.
[Reply]