BERCINTA DENGAN ALAM, BERCINTA DENGAN TUHAN?
Thursday, 29 October 2009 (11:23) | 96 views | 0 komentar | Print this Article
Maman S Mahayana Puisi (: sastra), bagi Malaysia adalah spirit kebudayaan. Ia dapat dimaknai sebagai alat perjuangan kebudayaan; maruah kemelayuan. Pada dasawarsa 1950-an, misalnya, sastra memancarkan semangat nasionalisme. Kemerdekaan Indonesia telah memberi inspirasi untuk melakukan hal yang sama. Maka, gerakan kebudayaan itu kemudian menjadi gerakan kebangsaan. Mengingat tumbuhnya nasionalisme di Malaysia itu sejak awal dimainkan para sastrawan dan guru—seperti juga yang terjadi di Indonesia—tidak... (more...)
MEMBINCANGKAN TIGA CERPEN GUS MUS
Thursday, 29 October 2009 (11:21) | 201 views | 0 komentar | Print this Article
Maman S Mahayana Ketika tahun 1970-an sastra Indonesia dilanda semangat eksperimentasi, sejalan dengan gerakan “kembali ke akar, kembali ke tradisi” sebagaimana yang diusung Abdul Hadi WM, kisah-kisah dunia jungkir balik dalam prosa, termasuk di dalamnya cerita pendek (cerpen), seperti menemukan pembenaran estetik. Absurdisme, melalui perkenalkannya dengan filsafat eksistensialisme, dipandang sebagai representasi dunia jungkir balik itu. Belakangan disadari, bahwa kisah-kisah supernatural dalam... (more...)
PANTUN SEBAGAI POTRET SOSIAL BUDAYA TEMPATAN
Thursday, 29 October 2009 (10:52) | 693 views | 0 komentar | Print this Article
Perbandingan Pantun Melayu, Jawa, Madura, dan Betawi Maman S Mahayana Pantun bagi masyarakat di kawasan Nusantara ibarat sesuatu yang begitu dekat, tetapi kini terasa jauh ketika budaya populer (low culture) makin menjadi primadona dalam industri hiburan. Dalam kondisi itu, pantun kini laksana pepatah, tak kenal maka tak sayang. Itulah yang terjadi pada pantun. Seolah-olah, ia hanya produk masa lalu yang sudah usang dan tiada berguna. Bahkan, bagi anak-anak muda di Jakarta dan beberapa kota besar... (more...)












