TAUFIQ ISMAIL: MENULIS DENGAN KEHARUAN HATI

Tuesday, 24 April 2012 (12:07) | 463 views | 0 komentar | Print this Article

img

TAUFIQ ISMAIL: MENULIS DENGAN KEHARUAN HATI Taufiq Ismail, Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit 1—4 (Jakarta: Horison, 2008; xlii + 1076 hlm; xxxiv + 801 hlm; xxxii + 880 hlm; xxxviii + 101 hlm) “Taufiq Ismail tak ingin memperingati usianya, tetapi perbuatannya. Sebab, hidup itu perbuatan,” begitu Fadli Zon, Ketua Panitia Peluncuran Buku Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit 1—4 (Jakarta: Horison, 2008; xlii + 1076 hlm; xxxiv + 801 hlm; xxxii + 880 hlm; xxxviii... (more...)

SEOLAH-OLAH KRITIK SASTRA

Tuesday, 24 April 2012 (12:03) | 325 views | 0 komentar | Print this Article

img

SEOLAH-OLAH KRITIK SASTRA Maman S Mahayana Esai “Kritik dan ‘Hama Sastra’” yang dimuat harian ini (PR, 19/9/2010), tak mubazir kiranya jika ditanggapi. Ia seolah-olah esai ‘kritik sastra’ yang enak dibaca, mengalir lancar memainkan bahasa. Tetapi, di sana-sini, ramai sesat nalar dan salah data. Tulisan ini coba mengembalikan duduk perkaranya ke jalan yang benar. Esai itu berangkat dari sebuah buku Damhuri Muhamad (DM), Darah Daging Sastra Indonesia (2010) yang memuat berbagai aspek sastra... (more...)

MENGGARAMI LAUT KRITIK SASTRA

Tuesday, 24 April 2012 (11:59) | 347 views | 0 komentar | Print this Article

img

MENGGARAMI LAUT KRITIK SASTRA Maman S Mahayana Kesalahpahaman atas kritik sastra Indonesia telah membentuk sejarahnya sendiri. Bagaimanapun, latar belakang pendidikan dan tingkat apresiasi setiap pembaca, tidaklah seragam. Maka, simpang-siur pemikiran tentang kritik sastra Indonesia menggelinding, membentangkan perjalanannya yang panjang. Tanggapan atas buku Darah Daging Sastra Indonesia (2010), Damhuri Muhammad, adalah satu contoh. Semangat untuk menghasilkan kritik sastra khas Indonesia tahun 1980-an,... (more...)

MENULIS SEBAGAI IBADAH

Tuesday, 24 April 2012 (11:47) | 96 views | 0 komentar | Print this Article

img

MENULIS SEBAGAI IBADAH Oleh Maman S. Mahayana Karya sastra –dalam hal tertentu—bolehlah dianggap sebagai refleksi evaluatif pengarang atas problem sosial yang terjadi di sekitarnya. Boleh juga karya itu dipandang sebagai representasi kegelisahan sosio-kultural pengarang dalam memaknai simpang-siur peristiwa yang terjadi dalam kehidupan umat manusia. Dalam hal ini, pengarang biasanya hanya akan mengungkapkan realitas kehidupan berdasarkan pengalaman yang paling dekat dengan dirinya. Atau, menyampaikan... (more...)

MOHAMMAD FUDOLI ZAINI: CERPENIS SUFISTIK YANG TERABAIKAN

Tuesday, 24 April 2012 (11:45) | 109 views | 0 komentar | Print this Article

img

MOHAMMAD FUDOLI ZAINI: CERPENIS SUFISTIK YANG TERABAIKAN Oleh Maman S. Mahayana Jika kita mencermati dua buku A. Teuuw, Sastra Baru Indonesia I (Ende: Nusa Indah, 1980) dan Sastra Indonesia Modern II (Jakarta: Pustaka Jaya, 1989), maka kita akan sia-sia mencari nama Mohammad Fudoli Zaini. Agak mengherankan, kritikus sastra Indonesia yang berwibawa dan sangat berpengaruh itu, bisa luput menyinggung nama itu. Padahal, H.B. Jassin dalam Angkatan ’66: Prosa dan Puisi (Jakarta: Gunung Agung, 1976) pernah... (more...)

CERPENIS SUFISTIK: MOHAMMAD FUDOLI ZAINI (BAGIAN II)

Sunday, 22 April 2012 (12:39) | 104 views | 0 komentar | Print this Article

img

CERPENIS SUFISTIK: MOHAMMAD FUDOLI ZAINI (BAGIAN II) Maman S. Mahayana* Ulasan ringkas atas cerpen “Si Kakek dan Burung Dara” ini tentu saja belum mengungkapkan banyak hal tentang kekayaan makna teks itu. Gambaran atau pernyataan simbolik di balik peristiwa-peristiwa yang diangkat dalam cerpen ini menunjukkan adanya kesadaran sufistik pada diri Fudoli Zaini. Sungguh, membaca dan meresapi cerpen yang penuh simbol dan metafor ini, kita seperti dibawa memasuki renungan mistik Jalal Ad-din Rumi.... (more...)

CERPENIS SUFISTIK: MOHAMMAD FUDOLI ZAINI (BAGIAN I)

Sunday, 22 April 2012 (11:50) | 260 views | 0 komentar | Print this Article

img

CERPENIS SUFISTIK: MOHAMMAD FUDOLI ZAINI (BAGIAN I) Maman S. Mahayana* Jika kita mencermati dua buku A. Teeuw,[1] maka kita akan berhadapan dengan kesia-siaan saja mencari nama Mohammad Fudoli Zaini. Sangat mengherankan, kritikus sastra Indonesia yang sampai sekarang oleh banyak pengamat sastra Indonesia dipandang sebagai kritikus paling berwibawa dan sangat berpengaruh itu, bisa luput menyinggung nama Mohammad Fudoli Zaini. Padahal, H.B. Jassin dalam Angkatan ’66: Prosa dan Puisi (Jakarta: Gunung... (more...)

PARADOKS SITUASIONAL

Sunday, 22 April 2012 (11:39) | 56 views | 0 komentar | Print this Article

img

PARADOKS SITUASIONAL Judul: Cintaku lewat Kripik Blado: Kumpulan Puisi Jurnalistik. Penulis: Linda Djalil. Penerbit: Buku Kompas, Jakarta. Tebal: xii + 244 halaman. Cetakan: I, Juni 2011 Paradoks, salah satu unsur penting dalam puisi, seperti juga metafora, ironi, simbol, dan imaji. Majas itu, diyakini kaum Kritik Baru Amerika sebagai syarat utama puisi. Ketika itu, puisi membawa kehebohan dalam kajian akademik di Amerika. Cleanth Brooks dan Robert Penn Warren (1967)... (more...)

JEMBATAN KELISANAN DAN KEBERAKSARAAN

Sunday, 22 April 2012 (11:31) | 131 views | 0 komentar | Print this Article

img

JEMBATAN KELISANAN DAN KEBERAKSARAAN Amin Sweeney, Pucuk Gunung Es: Kelisanan dan keberaksaraan dalam Kebudayaan Melayu—Indonesia, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, Juli 2011, xxii + 839 halaman. Sumber akar budaya masyarakat Nusantara tidak lain adalah tradisi lisan. Ketika bangsa Eropa datang dan melakukan penyeragaman pemakaian huruf Latin, tradisi lisan tiba-tiba diapkir dan dipandang usang. Pemakaian huruf Jawi, Pegon, dan huruf lain yang sudah dikenal beberapa etnis di wilayah Nusantara,... (more...)