CERPENIS SUFISTIK: MOHAMMAD FUDOLI ZAINI (BAGIAN II)
Sunday, 22 April 2012 (12:39) | 104 views | 0 komentar | Print this Article
CERPENIS SUFISTIK: MOHAMMAD FUDOLI ZAINI (BAGIAN II)
Maman S. Mahayana*
Ulasan ringkas atas cerpen “Si Kakek dan Burung Dara” ini tentu saja belum mengungkapkan banyak hal tentang kekayaan makna teks itu. Gambaran atau pernyataan simbolik di balik peristiwa-peristiwa yang diangkat dalam cerpen ini menunjukkan adanya kesadaran sufistik pada diri Fudoli Zaini. Sungguh, membaca dan meresapi cerpen yang penuh simbol dan metafor ini, kita seperti dibawa memasuki renungan mistik Jalal Ad-din Rumi. Fudoli seperti hendak mengungkapkan dunia-dalam manusia yang pada akhirnya akan sampai pada perenungan mengenai hubungan manusia dengan Tuhan. Dan Fudoli lewat cerpen ini bermaksud mengingatkan kita, bahwa “Sesungguhnya kepada-Nyalah kita akan kembali!”
DAFTAR PUSTAKA
Danarto, “Sastra Piawai yang Bermatra Keimanan,” Horison, No. 4, April 1989.
Hadi WM, Abdul. “Sastra Transendental dan Kecenderungan Sufistik Kepengarangan di
Indonesia” dalam Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999.
Hadi WM, Abdul. Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999
Hadi WM, Abdul. Tasawuf yang Tertindas. Jakarta: Paramadina, 2001.
Hassan, Fuad. Berkenalan dengan Eksistensialisme. Jakarta: Pustaka Jaya, 1976; Cetakan
I, 1973.
Hoerip, Satyagraha (Ed.). Cerita Pendek Indonesia III. Jakarta: Gramedia, 1986.
Ismail, Taufiq. “Sastra sebagai Amal Shaleh,” Horison, No. 6, Juni 1984.
Jassin, H.B. Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei I—IV. Jakarta: Gunung
Agung, 1955, 1962, 1967.
Jassin, H.B. (Ed.). Angkatan ’66: Prosa dan Puisi. Jakarta: Gunung Agung, 1976, Cet. I: 1968.
Eneste, Pamusuk (Ed.). Cerpen Indonesia Mutakhir. Jakarta: Gramedia, 1983.
Fudoli, Mohammad. Lagu dari Jalanan. Jakarta: Balai Pustaka, 1982.
Fudoli, Mohammad. Potret Manusia. Jakarta: Balai Pustaka, 1983.
Fudoli, Mohammad. Kota Kelahiran. Balai Pustaka, 1985.
Fudoli, Mohammad. Arafah. Bandung: Pustaka Salman, 1985.
Fudoli, Mohammad. Batu-Batu Setan. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994.
Fudoli, Mohammad. Rindu Ladang Padang Ilalang. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 2002
Fudoli, Mohammad. “Membentuk Dunia Dalam dan Dunia Luar.” Wawancana Abdul Hadi WM
dengan Fudoli Zaini. Horison, No. 11, November 1985.
Kratz, Ernst Ulrich. Bibliografi Karya Sastra Indonesia dalam Majalah. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press, 1988.
Nicholson, Reynold A. Jalaluddin Rumi: Ajaran dan Pengalaman Sufi. Jakarta: Pustaka Firdaus,
1993.
Nietzsche, Friedrich.“Tantangan bagi tiap Filsafat Besar.” Terj. Leila Chairani. Horison,
Oktober 1966.
Nietzsche, Friedrich. “Tentang Manusia Unggul.” Terj. H.B. Jassin. Horison, No. 6, XXIV, Juni
1990.
Rosidi, Ajip (Ed.). Laut Biru Langit Biru. Jakarta: Pustaka Jaya, 1977.
Said, Edward. 1991. Orientalism. London: Penguin, 1991.
___________. 1994. Culture and Imperialism. London: Vintage.
Sartre, Jean-Paul. Existentialism and Human Emotions. Trans. Bernard Frechtman and Hazel E.
Barnes. New York: Philosophical Library 1957.
Sastrapratedja, M. (Ed.). Manusia Multi Dimensional: Sebuah Renungan Filsafat. Jakarta:
Gramedia, 1982.
Teeuw, A. Sastra Baru Indonesia I. Ende: Nusa Indah, 1980.
Teeuw, A. Sastra Indonesia Modern II. Jakarta: Pustaka Jaya, 1989.
Yatim, Wildam. “Cerpen Mutakhir Kita” kertas kerja Diskusi Besar Cerita Pendek Indonesia,
Bandung, 14 September 1975.
LAMPIRAN
SI KAKEK DAN BURUNG DARA
Mohammad Fudoli
SI KAKEK berdiri di ambang pintu. Ia sedang menunggu menantunya datang dari pasar membeli kembang. Sudah dari tadi ia berdiri di situ dan menantunya belum juga datang-datang. Sekarang hari Jumat, pagi sekira jam delapan dan si kakek akan pergi ke kuburan. Di sebelah utara di atas kaki sebuah bukit, di situ istrinya terbaring di dalam bumi. Itu satu setengah bulan yang lalu sebagai satu permulaan, dan permulaan itu tak akan berakhir hingga Tuhan membangkitkan kembali manusia-manusia dari liang kubur. Si kakek memang percaya pada Tuhan, sebab ia yakin bahwa Ialah yang menghidupkan dan mematikan segenap makhluk yang ada di alam ini. Sebab itu ia harus tidak menyesali atau setidak-tidaknya harus tidak teramat sedih atas kematian istrinya. Kehilangan adalah sesuatu yang memang mesti terjadi, dan setiap manusia memang harus benar-benar menyadarinya.
Si kakek memandang ke timur. Matanya kini melampaui pagar halaman, melintasi ladang jagung, dan melalui sela-sela rumpun bambu ia menampak seorang perempuan berjalan tergesa-gesa. Itu dia sudah datang, pikir si kakek. Kembang yang dibelinya tentulah kembang yang harum, dan biar cuma sedikit ia akan menaburkannya di atas pusara istrinya. Si kakek mengelus-elus jenggot pendeknya yang sudah putih, lalu masuk sebentar ke dalam dan kemudian kembali berdiri lagi di ambang pintu itu.
Perempuan yang sedang berjalan di pematang ladang itu adalah menantunya. Perempuan itu adalah istri anak lelakinya. Adalah sesuatu yang memang merawankan hati, bahwa anaknya yang cuma satu itu telah pergi mendahuluinya. Setahun yang lalu perempuan itu harus menjadi seorang janda. Setahun yang lalu si kakek mesti mencatat dalam hatinya sebuah kehilangan yang sudah tidak dapat dielakkannya lagi. Anaknya yang laki-laki itu telah meninggal dalam suatu perlombaan karapan sapi, dan sekarang istrinya pun telah menyusulnya pula.
Si kakek masih berdiri di ambang pintu, lalu melangkah ke halaman dan tatkala dilihatnya perempuan itu muncul di situ, ia segera menyapanya.
— Kenapa lama? —
— Penjualnya belum datang — sahut si perempuan.
Perempuan itu membawa sebuah bungkusan daun, di dalamnya terdapat beraneka macam kembang dan bungkusan itu diberikannya kepada si kakek.
— Si buyung ke mana? — tanya si kakek.
Si buyung adalah cucunya yang laki-laki, anak perempuan itu.
— Mungkin sedang pergi mengaji — jawab si perempuan.
— Sekarang hari Jumat. Anak-anak tidak mengaji —
— Mungkin sedang bermain —
Perempuan itu masuk ke dalam rumah, dan si kakek memanggil-manggil:
— Buyung! Buyung! —
Tapi tak seorang pun yang ada menyahuti panggilannya itu. Si kakek merasa amat kesal. Pada hari Jumat seperti ini ia biasa membawa cucunya itu ikut bersama dia berziarah ke kuburan.
Tiba-tiba dari arah samping rumah muncul seorang anak kecil sambil tertawa-tawa. Si kakek membalikkan tubuhnya.
— Dari mana sejak tadi? — tanyanya.
— Dari ladang — jawab anak kecil itu.
— Ladang mana? —
Anak itu mengacungkan tangannya dan memperlihatkan beberapa tongkol buah jagung.
— Dapat mana? — tanya si kakek.
— Pak Gopar —
— Engkau minta? —
— Aku diberi —
— Awas, jangan engkau minta-minta —
Anak itu mendekat sambil mengupas jagungnya sebuah, dan kulitnya dilemparkannya di pinggir halaman itu.
— Buat apa? — tanya si kakek.
— Buat makan burungdara — jawab anak itu.
— Nanti saja. Sekarang kita ke kuburan —
— Burungdara itu mungkin lapar —
— Tadi sudah kuberi makan semua —
Sambil tersenyun-senyum dipegangnya bahu anak itu, lalu si kakek mengajaknya ke luar halaman. Anak itu berbalik.
— Aku ingin memberi makan burungdara itu dulu — katanya.
— Burung itu tidak lapar — tukas si kakek.
— Tapi si kelabu harus kuat. Harus bisa cepat terbang dan menukik. Nanti sore kakek akan mengadunya —
— Tidak nanti sore, tapi besok —
Anak itu rupanya merasa agak tidak puas sebab kakeknya baru akan mengadu si kelabu — burung dara kesayangannya itu — besok. Padahal sudah beberapa hari burung itu tidak pernah-pernah diadu. Namun anak itu cuma diam saja. Dan ketika si kakek menyuruh ia menaruh jagungnya dulu di dalam, ia pun segera lari dan tak seberapa lama kemudian muncul lagi dengan wajah yang bersinar-sinar.
— Ketepilmu jangan lupa! — seru si kakek.
— Tidak! — anak itu menunjukkan ketepilnya.
Mereka berjalan ke luar halaman, melewati pematang ladang jagung, lalu membelok ke utara. Matahari sudah mulai meninggi. Langit cerah dan angin bertiup dari arah timur. Sekarang mereka melewati dua petak ladang jagung dan si kakek menoleh pada cucunya.
— Kita sudah akan memetik, buyung — katanya.
— Pak Gopar sudah — kata anak itu.
— Ia menanam duluan —
Anak itu berjalan di samping kakeknya, tangan kanannya memegang ketepil dan tangan kirinya berpegangan pada lengan si kakek.
Tiba-tiba ia menyendal lengan kakeknya sedikit.
— Aku ingin memetik jagung itu — katanya.
— Untuk apa? — tanya si kakek.
— Aku ingin jagung bakar —
— Tiap hari engkau minta jagung bakar —
— Jagung itu enak dan manis —
Dilihatnya si kakek tersenyum-senyum sambil memandang ke arah ladangnya.
— Ya kakek? —
Si kakek mengangguk, dan anak itu jadi kegirangan.
— Sekarang? — tanyanya.
— Nanti saja pulangnya —
Mereka terus berjalan ke utara. Di dekat sebatang pohon jambu anak itu melihat seekor burung kepodang. Segera ia mencari sebuah batu kecil, lalu cepat-cepat membidiknya. Tapi sebelum batu itu terlepas, dilihatnya burung kepodang itu sudah terbang dan anak itu merasa amat kecewa.
— Burung itu mengerti — gerutunya.
— Engkau terlalu tergesa-gesa — kata si kakek.
— Burung itu licik! —
Si kakek tersenyum lagi, lalu dielus-elusnya kepala anak itu dan katanya mengalih:
— Besok kita pergi mengadu burungdara —
Anak itu menoleh dan seketika kekecewaannya seperti hilang.
— Si kelabu pasti menang — katanya. — Si kelabu pintar terbang cepat dan menukik. Pasti yang lain kalah semua —
— Kepunyaan Pak Carik? —
— Pasti kalah juga. Tempo hari dengan si kelabu kan sudah pernah dicoba? —
Memang si kelabu —burungdara kesayangan si kakek — memang tidak ada yang bisa menandinginya di desa ini. Meskipun kepunyaan Pak Carik sekalipun yang sudah terkenal cepat terbangnya itu.
— Tapi kenapa kakek tidak pernah bertaruh? — anak itu memegangi lengan kakeknya.
— Bertaruh? —si kakek tersenyum.
— Ya. Si kelabu selalu menang, dan uang kakek nanti tentu banyak —
— Bertaruh tidak baik, buyung —
— Kenapa? —
— Merusak dan uangnya tidak halal —
— Aku tidak mengerti —
— Tanyakan pada Kiyai Mahmud. Tentu ia akan menerangkannya —
Rupanya anak itu masih belum mengerti. Ia tertunduk dan mengerutkan dahinya beberapa lama.
— Apa kakek diberi tahu Kiyai Mahmud? — tanyanya kemudian.
— Ya. Dulu kakek tidak lahu. Dulu ketika masih muda, kakek biasa juga bertaruh. Tapi sekarang tidak. Kiyai Mahmud bilang, bertaruh dan pekerjaan-pekerjaan merusak lainnya, adalah larangan Tuhan —
— Tapi banyak orang-orang yang suka bertaruh —
—Apa Kiyai Mahmud tidak bilang itu padamu? — tanya si kakek.
— Tidak — jawab anak itu.
— Kapan-kapan tentu ia bilang. Ia gurumu —
— Ia pernah memecutku dengan lidi —
— Karena engkau selalu salah jika mengaji. Engkau harus rajin dan sungguh-sungguh supaya engkau lekas pinter —
Sekarang anak itu sudah berumur enam tahun. Tahun depan ia mesti sudah memasuki sekolah. Ia harus betul-betul rajin bersekolah, pikir si kakek, supaya kelak bisa menjadi seorang yang pandai. Ia pun harus pula rajin mengaji dan juga bekerja. Si kakek ingin agar cucunya tidak seperti dia sendiri yang telah banyak menyia-nyiakan masa mudanya. Cucunya harus menjadi seorang yang dapat ia banggakan sebelum ia menutup matanya yang penghabisan. Ia telah gagal dengan anaknya sendiri, dan sekarang anaknya sudah tidak ada.
Si kakek melirik pada anak itu dan katanya:
— Ajianmu sekarang sudah sampai di mana? —
— Bismillah — jawab anak itu.
— Alhamdu belum? —
— Belum —
— Coba bacakan yang sudah —
Anak itu membacakan keras-keras sambil memandang ke arah langit. Dan ketika sudah selesai ia berpaling sejurus pada kakeknya.
— Usin sudah hampir hatam — katanya. — Sebentar lagi ia akan mengadakan selamatan di rumahnya dan akan menyembelih ayam —
— Engkau juga harus begitu —
— Usin besar, aku masih kecil —
Mereka sudah dekat pada sebuah kali yang sudah hampir kering airnya. Di musim hujan air kali ini cukup banyak dan malah sering juga meluap. Di situ ada sebuah jembatan bambu, dan si kakek serta cucunya pelan-pelan lewat di atasnya. Tak seberapa jauh dari jembatan si kakek menoleh dan dilihatnya cucunya tidak ada. Ia bingung.
— Buyung! Engkau di mana? — serunya.
Tak ada sahutan dan ia tambah bingung.
— Buyung! Engkau di mana? — serunya lagi tambah keras.
— Di sini! — anak itu menyahut dari balik rumpun jagung.
Si kakek melihat rumpun jagung tak jauh dari tempatnya bergerak-gerak. Ia merasa lega.
— Sedang apa engkau di situ! —
— Kencing? — sahut anak itu.
Tiba-tiba si kakek tersenyum lebar sendirian.
— Setan belang! — gerutunya. — Lekas! —
Anak itu muncul dari balik rumpun jagung sambil tertawa-tawa, lalu berlari-lari ke arah kakeknya.
Di sebelah utara itu adalah sebuah bukit yang tidak begitu tinggi. Mereka sudah hampir sampai di sana. Tiga petak ladang lagi kaki bukit akan sudah mereka injaki. Si kakek memandang ke bukit itu. Jika ia memandang bukit itu dari jarak yang dekat, dadanya terasa ada bergoncang. Sekarang ia mulai menunduk. Ia tahu, di bukit itu terkubur anak lelakinya yang cuma satu-satunya ia miliki. Di bukit itu pula terkubur seorang perempuan yang telah mengisi seluruh hatinya. Marliah nama perempuan itu. Nama yang begilu merdu dan begitu nikmat jika ia menyebut-nyebutnya, terlebih-lebih di masa mudanya dulu.
Perempuan itu membantu ibunya menjual kembang di pasar. Itu beberapa puluh tahun yang lalu. Tapi jika ia mengenang sekarang, ia merasa bahwa itu baru saja kemarin sore. Ia berumur duapuluh tahun. Ketika suatu kali ia pergi ke pasar, di situ dengan tak tersangka-sangka ia beradu pandang dengan perempuan itu untuk pertama kalinya. Perempuan itu lembut, agak pemalu dan ayu. Ia ingat semua sifat-sifat perempuan itu biar sekarang.
Sejak itu ia sering pergi ke pasar, walau tak ada keperluan apa pun. Ia datang ke situ cuma karena ingin bertemu pandang dengan perempuan itu, kemudian untuk melihat dia tertunduk kemalu-maluan. Sekali pernah juga ia memberanikan diri pura-pura membeli kembang, dan dilihatnya perempuan itu gugup. Ia sendiri merasa sekujur badannya bergetar dan ia hampir tak dapat bersuara. Alangkah lucunya itu dan alangkah tololnya ia dulu.
Ia ingat juga tatkala suatu kali dengan resmi ia telah bertunangan dengan perempuan itu. Tatkala malam-malam ia tak dapat memejamkan mata karena selalu terkenang padanya. Juga ia ingat kepada lelaki yang tinggi besar itu yang sering mengganggu perempuan-perempuan, termasuk juga istri orang lain, tapi yang tak ada seorang pun yang berani padanya di desa. Kepada lelaki itu ia memang ada menaruh dendam di dalam dadanya. Sejak ia tahu bahwa lelaki itulah yang pernah menghina dan rnenganiaya bapaknya.
Lalu suatu hari dilihatnya lelaki itu mengganggu pula tunangannya ketika sedang berjualan di pasar. Bukan main panas hatinya kala itu. Dengan darah mudanya yang mendidih ia pulang, lalu mengambil pisaunya dan mengasahnya tajam-tajam. Ditungguinya lelaki itu di bawah pohon di sebuah jalan yang menanjak tak jauh dari rel kereta api. Biasanya jika pulang lelaki itu lewat di jalan ini, jalan yang sepi di antara ladang-ladang jagung.
Lelaki itu datang dari jauh. Ia melihat, sebab waktu itu matanya masih muda dan tajam dan memang ia mengenal gaya lelaki itu berjalan. Ia tahu, badan lelaki itu jauh lebih tinggi dari badannya sendiri, dan ia berpikir-pikir bagaimana caranya menikam nanti. Kepalanya mungkin belum mencapai bahu lelaki itu. Tapi ia sama sekali tidak gentar. Ia tunggu lelaki itu sampai dekat. Lalu ia melompat dan secepat itu ia menikam lelaki itu pada lambung kirinya. Lelaki itu tidak sempat mengelak dan ia rubuh melintang jalan.
Waklu itu tengah hari. Ketika ia melihat lelaki itu rubuh ia merasa amat puas. Sebab dendamnya telah tertumpah. Lalu pelan-pelan ia pulang dan pisaunya dibiarkannya di situ terletak di tanah. Kemudian waktu alat-alat negara mencari siapa yang menikam lelaki itu, ia pun datang dan mengatakan dialah yang menikamnya. Dikatakannya juga tentang sebab-sebab mengapa ia menikam lelaki itu, dan ia pun sama sekali tidak takut akan hukuman yang pasti akan ditimpakan padanya. Seluruh desa menjadi gempar dan orang sama kagum akan keberaniannya.
Itu beberapa puluh tahun yang lalu. Tapi perempuan itu memang setia. Ya, perempuan itu memang setia padanya. Meskipun beberapa tahun ia harus meringkuk di dalam penjara, namun akhirnya ia kawin juga dengan perempuan itu. Lama-lama ia dikaruniai seorang anak perempuan, tapi meninggal waktu masih kecil. Lalu lahir pula seorang anak lelaki, anaknya yang kedua dan juga anaknya yang penghabisan. Sekarang ia sudah tua. Dan dalam ketuaannya ini ia merasa amat menyesal atas segala perbuatannya yang dulu-dulu. Ia merasa banyak berdosa dan ia akan selalu tobat kepada Tuhan.
— Kita sudah sampai! — kata anak itu.
Si kakek seperti terpental dan memandang ke muka. Jalanan mulai mendaki dan di mukanya nampak sekelompok kuburan.
— Ya, kita sudah sampai — kata si kakek.
— Kakek mau berdoa? — tanya anak itu.
— Tentu saja, buyung —
— Jika mau berdoa jangan panjang-panjang, biar kita bisa lekas pulang — Si kakek
tersenyum sebentar, lalu menjongkok dan anak itu pun turut menjongkok pula.
Sekarang aku datang padamu Marliah, bisik si kakek dalam hatinya. Aku datang padamu sekarang. Lalu ia komat-kamit membaca sesuatu, lalu mengangkat kedua belah tangannya dan ia mencoba mendoa sebisa-bisanya. Di situ dikenangnya perempuan itu. Di situ dikenangnya anak lelakinya, penunggang sapi yang jatuh di dalam gelanggang. Waktu itu tiga pasang sapi sedang berlomba dalam babak terakhir, dan anaknya terpotong di tengah oleh sapi lawannya, lalu ia lepas terseret dan terlindas oleh sapi yang satunya lagi. Ya, di situ ia mengenang segala-galanya.
Selesai mendoa perlahan ia bangkit, dan kembang yang dibawanya tadi ditaburkannya di situ. Mula-mula di atas pusara istrinya. Ditaburkannya kembang kenanga dan ia berbisik dalam hatinya: Inilah kembang kesayanganmu dulu, Marliah. Lalu ditaburkannya melati: inilah kembang kecintaanmu, wahai perempuan yang pemalu. Dan matanya sekarang mulai nampak berkilat-kilat, berkaca-kaca oleh air mata yang tergenang.
Cepat-cepat ia menaburkan sisa kembang itu pada kuburan anaknya, berdiri sebentar menundukkan kepala, lalu bergegas pergi menuruni bukit itu. Tiba di ladang yang tadi, dibiarkannya cucunya memetik beberapa tongkol buah jagung. Pulangnya itu mereka hampir saja tidak bercakap-cakap. Sudah biasa jika pulang dari kuburan si kakek nampak murung dan anak itu rupanya mengerti.
Hari itu lepas asar si kakek memberi makan burungdaranya di halaman. Sepasang burung itu amat disayanginya, dielus-elusnya setiap hari. Burungdara itu memang satu-satunya penghibur kakek dari dulu, terlebih-lebih pada hari-hari murung belakangan ini. Besok si kakek hendak mengadunya dan burung itu tentu tak akan terkalahkan.
Tapi betapa renyah hati si kakek tatkala esoknya selesai bersubuh ia pergi ke halaman menengok burung kesayangannya itu. Dilihatnya pintu rumah-rumahan burungdara itu telah terbuka dan di dalamnya cuma tinggal seekor dan yang betinanya pula. Di bawah situ dilihatnya bulu-bulu binatang itu — ya, bulu-bulu binatang jantannya — telah berserak-serak. Bulu-bulu itu juga berceceran satu dua sampai di luar halaman.
— Musang! — gerutu si kakek.
Tidak mungkin binatang itu bisa membuka pintu tempat burungdara, pikirnya. Kemarin aku telah menutupnya baik-baik. Si kakek merasa gemas, lalu ia berseru-seru memanggil menantunya. Perempuan itu datang terburu-buru dan tatkala ia melihat apa yang telah terjadi, ia pun jadi tertegun.
— Siapa yang membuka pintu itu? — tanya si kakek.
— Mungkin si buyung — kata perempuan itu agak gugup. —Kemarin hampir tenggelam matahari saya lihat dia memberi makan burungdara. Mungkin ia lupa menutup pintu itu kembali —
Dipanggilnya si buyung dan anak itu datang, lalu tercengang melihat bulu-bulu berserakan dan akhirnya ia tertunduk.
— Engkau yang memberi makan burungdara itu kemarin? — tanya si kakek.
— Ya — jawab anak itu hampir tak terdengar.
— Kenapa tidak kaututup kembali pintunya? —
— Lupa —
Hh engkau buyung, bisik si kakek dalam hatinya. Sekiranya engkau bukan cucuku. Sekiranya engkau bukan cucuku …!
Lalu dicobanya untuk melunakkan kegemasannya sendiri, didekatinya anak itu dan katanya tidak lagi keras:
— Ya sudahlah. Pergilah mengaji —
Anak itu masih saja tertunduk ketika ia berjalan mengambil kitab sucinya. Juga ketika ia melangkah ke luar halaman dan berjalan ke arah selatan. Tidak, aku tidak marah padanya, pikir si kakek. Aku tidak harus marah padanya. Lalu pelan ia menjongkok. Diambilnya selembar bulu burungdara kesayangannya itu, lalu perlahan ia melangkah masuk ke dalam. Wajahnya kelihatan sedih dan murung. Di dalam ia duduk termangu di atas balai-balai.
Horison, Th. I, No. 1, Juli 1966
* Maman S Mahayana, Pengajar FIB-UI, sekarang menjadi dosen tamu di Department of Indonesian—Malay Studies, Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea.
[1] Periksa secermat-cermatnya dua buku A. Teeuw, Sastra Baru Indonesia I (Ende: Nusa Indah, 1980) dan Sastra Indonesia Modern II (Jakarta: Pustaka Jaya, 1989). Kedua buku ini, di samping buku H.B. Jassin, Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei I—IV (Jakarta: Gunung Agung, 1955, 1962, 1967), termasuk buku referensi yang hampir tidak pernah diluputkan para pengamat sastra Indonesia ketika mereka membicarakan sejarah kesusastraan Indonesia. Demikian juga, dalam banyak buku pelajaran sastra untuk sekolah, kedua buku A. Teeuw itupun sering dijadikan sebagai buku referensi penting. Akibatnya, sudah dapat diduga, kedua buku A. Teeuw itu laksana rujukan yang selalu menjadi andalan. Jika tidak merujuk buku itu, seolah-olah pembicaraan sastra tidak lengkap, tidak ilmiah. Sebagai buku referensi tentu saja buku A. Teeuw itu penting. Tetapi menyikapinya dengan menerima begitu saja apa yang disajikan dalam buku itu, juga bukanlah sikap yang baik. Maka, buku karya siapa pun, termasuk juga buku karya H.B. Jassin, mesti disikapi dengan kritis. Dan terbuktilah, kedua buku A Teeuw itu mengandung beberapa kelemahan, di antaranya: (1) Teeuw tidak menggunakan sejumlah karya sastra yang bertebaran di surat-suratkabar dan majalah, (2) penempatan awal “lahir” dan berkembangnya sastra Indonesia dimungkinkan oleh berdirinya Balai Pustaka yang nota bene adalah lembaga penerbitan kolonial, masih perlu dipertanyakan, (3) banyak nama yang tidak disinggung atau ulasannya cenderung berat sebelah, terutama ketika membicarakan nama-nama sastrawan yang mengusung tema-tema Islam, seperti Hamka, Muhammad Dimyati, Mohammad Diponegoro atau Muhammad Fudoli Zaini. Pengamat sastra Indonesia asal Belanda itu sepertinya tidak punya minat membicarakan sastrawan yang mengusung tema-tema Islam. Jadi, jika nama Muhammad Fudoli Zaini luput dari pengamatan Teeuw, ya wajar saja. Bukankah di samping nama-nama itu, banyak cukup banyak nama lain yang lalai dicatat Teeuw?
[2] Abdul Hadi WM, Kembali ke Akar Kembali ke Sumber, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999, hlm. 55—59. Dalam tulisannya, Abdul Hadi bahkan menempatkan Fudoli Zaini sebagai cerpenis terkemuka tahun 1970-an di antara nama Danarto dan Kuntowijoyo.
[3]Wildam Yatim, “Cerpen Mutakhir Kita” kertas kerja yang disampaikan dalam Diskusi Besar Cerita Pendek Indonesia di Bandung, 14 September 1975 (kemudian dimuat dalam buku Pamusuk Eneste (Ed.), Cerpen Indonesia Mutakhir, Jakarta: Gramedia, 1983, hlm. 80—118).
[4] Ulasan Wildam Yatim ini cenderung melihat cerpen-cerpen Fudoli Zaini dalam kaitannya dengan problem sosiologis. Maka, problem yang dihadapi oleh tokoh-tokoh dalam cerpen Fudoli sebatas konflik hubungan manusia dengan manusia. Cara pandang ini berbeda dengan yang dilakukan Abdul Hadi WM yang melihat cerpen-cerpen Fudoli sebagai manifestasi simbolik ketika manusia berhadapan dengan Tuhan. Maka, Abdul Hadi menempatkan cerpen-cerpen Fudoli Zaini dalam kaitannya dengan simbol-simbol sufistik.
[5] Data agak lengkap mengenai cerpen-cerpen Mohammad Fudoli Zaini—sebagian besar menggunakan nama Muhammad Fudoli—periksa Ernst Ulrich Kratz, Bibliografi Karya Sastra Indonesia dalam Majalah, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1988, 177—178.
[6] Friedrich Nietzsche, “Tantangan bagi tiap Filsafat Besar” terj. Leila Chairani. Horison, Oktober 1966. Lihat juga Friedrich Nietzsche, “Tentang Manusia Unggul” (terjemahan H.B. Jassin), Horison, No. 6, XXIV, Juni 1990, Jean-Paul Sartre, Existentialism and Human Emotions. Trans. Bernard Frechtman and Hazel E. Barnes. New York: Philosophical Library 1957, dan Sastrapratedja, M. (Ed.), Manusia Multi Dimensional: Sebuah Renungan Filsafat, Jakarta: Gramedia, 1982.
[7] Fudoli Zaini, “Membentuk Dunia Dalam dan Dunia Luar,” (Wawancana Abdul Hadi WM dengan Fudoli Zaini), Horison, No. 11, November 1985.
[8] Konsep terlibat-dalam dan terlibat-luar, diperkenalkan Fudoli Zaini boleh jadi sengaja untuk membedakannya dengan aliran kesadaran (stream of consciousness) dan sastra terlibat (engage) atau seni pesanan. Aliran kesadaran sebagaimana yang digunakan Iwan Simatupang, Putu Wijaya, atau Kuntowijoyo, mengembangkan penceritaannya melalui lakuan dan pikiran atau perasaan tokoh-tokohnya. Jadi, apa yang dilakukan si tokoh dengan apa yang dipikirkan atau dibayangkannya, bisa tumpang tindih membangun peristiwa. Maka, yang muncul di sana, bisa peristiwa yang memang dilakukan tokohnya, bisa juga peristiwa yang sebenarnya hanya ada dalam pikiran atau perasaan tokoh yang bersangkutan. Contoh yang baik mengenai model penceritaan seperti ini, periksa misalnya novel Ziarah karya Iwan Simatupang, Telegram karya Putu Wijaya atau Khotbah di Atas Bukit karya Kuntowijoyo. Adapun yang dimaksud dengan sastra terlibat adalah karya sastra yang sengaja diciptakan untuk kepentingan tertentu, entah itu kepentingan ideologi partai politik atau kepentingan komersial. Oleh karena itu juga, konsep sastra terlibat ini juga sering dikaitkan sebagai seni pesanan (engage), karya seni yang dibuat atas pesanan pihak tertentu.
[9] Fudoli Zaini, “Membentuk Dunia Dalam dan Dunia Luar,” (Wawancana Abdul Hadi WM dengan Fudoli Zaini), Horison, No. 11, November 1985.
[10] Ibid.
[11] Ibid.
[12] Mengenai sastra sufi, sudah terlalu banyak sumber yang membicarakannya, beberapa di antaranya, dapat disebutkan berikut ini: Abdul Hadi WM, Kembali ke Akar Kembali ke Sumber, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999; Abdul Hadi WM, Tasawuf yang Tertindas, Jakarta: Paramadina, 2001; Danarto, “Sastra Piawai yang Bermatra Keimanan,” Horison, No. 4, April 1989; Reynold A. Nicholson, Jalaluddin Rumi: Ajaran dan Pengalaman Sufi, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993.
[13] Abdul Hadi WM, Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999, hlm. 21—61.
[14] Salah satu sikap dasar yang mesti menjadi pegangan bagi setiap sastrawan Muslim adalah menghindar dari usaha mendewakan buah karya manusia, apa pun karya itu, termasuk di dalamnya sastra. Sewajarnya menghargai dan mengapresiasi karya-karya agung para seniman besar. Tetapi, kita harus menempatkan keagungan dan keadiluhungannya itu tidak lain sebagai salah satu percikan kemahaagungan Sang Kreator jagat raya; Sang Maha Pencipta. Ia akan tetap menempatkan ciptaan Sang Kreator jagat raya itulah sebagai karya yang mahasempurna.
Dengan menempatkan dirinya dalam hubungannya dengan Sang Pencipta, maka apa pun tindak perbuatannya, selalu dalam garis korespondensi itu. Sang Pencipta—Seniman—Karya—Masyarakat. Selalu, di belakang dan di depannya ada bayangan Tuhan, dan dengan kesadaran itu ia berkarya, berbuat, bertindak semata-mata sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan dan sekaligus sebagai bentuk tanggung jawab untuk kemaslahatan manusia. Bahkan, seperti ditegaskan lagi Taufiq Ismail: “Apa pun jua bentuk kesenian yang akan kita lakukan, bentuk sastra yang akan kita tulisankan, maka yang teramat penting pada awalnya adalah niat. Niat kita mestilah niat karena Allah, tidak karena yang lain. Tidak karena manusia, tidak karena lembaga, tidak karena seni atau sastra itu sendiri. Niat karena Allah diperuntukkan bagi manusia. Manfaatnya bagi manusia dan makhluk lainnya.” (Taufiq Ismail, “Sastra sebagai Amal Shaleh,” Horison, No. 6, Juni 1984).
Tulisan lain yang berkaitan:
Tulisan berjudul "CERPENIS SUFISTIK: MOHAMMAD FUDOLI ZAINI (BAGIAN II)" dipublikasikan oleh Maman S. Mahayana (Sunday, 22 April 2012 (12:39)) pada kategori Makalah. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon, atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
0 komentar terhadap “CERPENIS SUFISTIK: MOHAMMAD FUDOLI ZAINI (BAGIAN II)”
Komentar Anda?












