PARADOKS SITUASIONAL

Sunday, 22 April 2012 (11:39) | 56 views | 0 komentar | Print this Article

PARADOKS SITUASIONAL

Judul: Cintaku lewat Kripik Blado: Kumpulan Puisi Jurnalistik. Penulis: Linda Djalil. Penerbit: Buku Kompas, Jakarta. Tebal: xii + 244 halaman. Cetakan: I, Juni 2011

Paradoks, salah satu unsur penting dalam puisi, seperti juga metafora, ironi, simbol, dan imaji. Majas itu, diyakini kaum Kritik Baru Amerika sebagai syarat utama puisi. Ketika itu, puisi membawa kehebohan dalam kajian akademik di Amerika. Cleanth Brooks dan Robert Penn Warren (1967) lalu menyusun buku tentang puisi, berjudul Understanding Poetry. Sapardi Djoko Damono dalam puisi-puisinya, juga mengusung paradoks sebagai senjata untuk membuai dan menusuk para pembacanya. Maka, pisau dan apel, bisa mengundang selera, tetapi sekaligus juga mengandung kengerian ketika mata pisau tampak berkilat.

Sejumlah besar puisi Linda Djalil yang terhimpun dalam Cintaku lewat Kripik Blado (Penerbit Kompas, 2011) juga menaburkan paradoks. Ia menusuk, tetapi tak membuai, lantaran cenderung bermaksud segera mewartakan. Ia tergoda menciptakan atmosfer, suasana peristiwa. Maka tusukannya bersifat seketika, meski tetap memancarkan pesona, karena di sana ada atmosfer paradoksal. Pembaca akan segera tergelitik, tanpa perlu berkutat dahulu memburu imaji atau simbol. Boleh jadi itu dipengaruhi latar pengalaman yang berada di belakangnya. Dunia jurnalistik –seperti disinggung Putu Wijaya dalam prolog—menjadikan puisi-puisinya “… tak mau lagi dibatasi. Ia membawa batasannya sendiri.” (hlm. x). Jadi, atmosfer paradoksal itulah yang hadir dalam puisi-puisi Linda Djalil. Itulah paradoks situasional.

Perhatikan saja puisinya yang dijadikan judul buku ini: kripik Blado! Penganan ringan yang tak asing, tetapi kadang sulit kita peroleh. Ia enak, meski tak gurih. Cukup pedas dan mungkin juga menyengat. Ia makanan biasa, tetapi khas, istimewa lantaran cara pengolahannya. Tetapi Linda dalam puisi itu tak bermaksud membuat iklan tentang kripik. Ia mengangkat kisah seorang ibu, tonggak keluarga. Lewat kripik blado, ibu menghidupkan keluarga, kebahagiaan, dan harapan. Lalu, ketika tragedi datang, segalanya musnah. Maka, pada Hari Ibu, sosok ibu sejati itu, tak lagi dapat menjadi simbol keagungan, melainkan kenangan tragis!

Kripik blado seperti mewakili substansi puisi-puisi Linda! Mulai dari puisi pertama tentang pembantu sampai perkara Yus yang samarannya kurang makyus, seperti sajian kripik blado itu: enak dan pedas, senang dan sedih, ikut marah meski kita tak dapat mengucapkannya. Tetapi, terasa plong. Linda seperti mewakiki kegalauan kita ketika melihat berbagai peristiwa absurd di negeri ini. Lalu, tersambungkan oleh atmosfer peristiwa dalam puisi-puisi itu.

***

Paradoks situasional! Model itulah yang mewarnai puisi-puisi Linda. Itu pula yang membuatnya tidak membuai. Metafora yang dibangunnya bukan untuk mengatakan begitu yang artinya begini, melainkan sebuah pewartaan seolah-olah begitu padahal maksudnya (mungkin) begini. Jadilah fakta yang dikemas menjadi fiksi itu, tetap saja tak menyembunyikan muatan berita. Di situ pula sesungguhnya keunikan puisi-puisi Linda. Ia secara sadar menempatkan kakinya di dua wilayah: fakta—fiksi atau seolah-olah fiksi, padahal fakta.

Periksa pula pemuatan urutan puisinya. Ia menghindar penempatan secara kronologis, dan memilih berdasarkan urutan alfabetis judul. Sepertinya ia tak peduli pada perkara tarikh (waktu peristiwa), dan membiarkan pembaca mencari sendiri benang merahnya. Tetapi, Linda tak lupa pada kolofon yang dicantumkannya pada akhir puisi. Maka, puisi terakhir tentang Yus (: Gayus?) yang bertarikh 9 November 2010, tetap saja punya cantelan waktu dan peristiwa. Ia ingin bersiasat, tetapi tak hendak membuat muslihat. Ia mewartakan peristiwa dengan suara hati.

Kini kita coba menyelami isinya. Puisi awal yang berbicara tentang pembantu, misalnya, dimulai dengan kegenitan pembantu pada hp. Kita dibikin kesal dan nyaris muak. Tetapi, di akhir puisi itu, muncul kesan keberpihakan penyair: main hp bukan hanya boleh untuk para bos…/ ’orang kecil’ pun punya hak yang sama …// Jadi, siasatnya mengecoh: seolah-olah begitu, padahal begini. Buka saja secara sembarang buku itu. Simaklah puisinya. Maka, kita akan berjumpa dengan suasana paradoksal itu. Tentang banjir, misalnya (hlm. 24). Banjir membawa musibah dan menciptakan banjir air mata. Bagaimana dengan banjir 900 miliar rupiah; banjir uang korupsi? Ia tak menciptakan air mata, melainkan banjir eufemisme.

Patut pula diperhatikan perkara nada (tone) dan ketaklaziman untuk menciptakan suasana paradoksal dari peristiwa keseharian yang sangat biasa, menjadi sesuatu yang luar biasa. Bahasa kadang tak dapat sepenuhnya mewakili kecamuk perasaan. Maka, di situlah diizinkan licentia poetica. Pemakaian ungkapan ekspresif: kata bergalon-galon (hlm. 82), misalnya, meski (mungkin) tak lazim, ia memberi nuansa keberlimpahan yang tersumbat kran. Nada puisi itu menghadirkan perasaan bergemuruh—berdesakan yang tak terucapkan. Ia jadi paradoks, karena peristiwa hati bertentangan dengan realitas yang dihadapi perempuan yang dilanda kangen itu.

Periksa juga “Puisi dari Kubur” (hlm. 144). Meski hubungan subjek penyair dan objek roh dalam kubur, lebur, ia tak berbicara tentang nikmat kubur atau kehidupan di alam sana. Ia malah leluasa menyampaikan kenangan manis semasa hidupnya; mengenang sahabat sejati dan orang-orang tercinta. Merasakan kangen. Tetapi, ia tak mau muncul lagi. “Kunikmati saja ulang tahunku di sini/dalam kubur terdalam.” Ternyata: jasad pun tak mau hidup lagi ketika melihat negeri ini makin kacau. Bukankah itu sebuah pewartaan tentang situasi yang paradoks?

Cintaku lewat Kripik Blado memuat 101 puisi. Sebagai kumpulan puisi jurnalistik, tema yang diangkatnya, ya seperti sajian suratkabar. Apa pun bisa menjadi berita. Dan berita apa pun jadi menarik, lantaran Linda sadar betul pada perkara cara membidik dan mengolah. Tetapi, jangan lupa: ini puisi, dan penyair punya kesadaran itu. Maka, prinsip dasar jurnalistik: anjing menggigit orang, orang menggigit anjing, tidak berlaku di sana. Dengan demikian, peristiwa keseharian apa pun, yang penting atau tidak penting, aktual atau basi, off the record atau tidak, boleh menjadi puisi. Linda Djalil begitu bebas mengumbar imajinasi, unek-unek, dan apa pun yang tidak diizinkan dalam dunia jurnalistik.

Meski ada kesadaran bahwa puisi yang menjadi pilihannya, Linda tak begitu saja terjebak pada semangat merumit-rumitkan bahasa. Maka terhindarlah dari penciptaan metafora yang maknanya nun jauh di sana. Ia tak hendak memaksakan diri mengumbar bunga kata-kata, atau menyembunyikan pesannya berada di lorong gelap. Ia tak ingin menambah beban, hingga  pembacanya berkerut dahi. Ia hanya ingin berbagi. Itulah bentuk kompromi. Jadilah ekspresinya begitu cair—licin, lincah—lepas, terkadang juga urakan dan menghindar bahasa formal. Segalanya tampak jujur dan menghibur; suka-suka gue dan egp!

Inilah antologi puisi yang tak berpretensi memanjat kejumawaan dalam permainan bahasa. Ia hanya coba menawarkan keberbagaian situasi yang terjadi di negeri ini. Dan situasi itu nyaris tak pernah luput dari paradoks. Dengan begitu, terbuka ruang yang luas bagi pembaca untuk ikut mondar-mandir memasuki situasi paradoksal itu. Garis demarkasi fakta—fiksi jadinya begitu lentur, sebab di sana bahasa denotasi dan konotasi berada dalam posisi yang peranannya sama penting. Itulah yang dikatakan Cleanth Brooks dalam “The Language of Paradox” sebagai paradoks situasional! Dan puisi-puisi Linda Djalil, agaknya termasuk kategori itu! (Maman S Mahayana, Pengajar FIB-UI. Kini bertugas sebagai Dosen Tamu di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea)

Tulisan lain yang berkaitan:

img Dunia Gila Kehidupan Gelandangan (19 February 2013, 91 views, 2 respon)
img SUARA HATI, SUARA TUHAN (14 January 2013, 129 views, 0 respon)
img POSISI PUISI, POSISI ESAI (14 January 2013, 120 views, 0 respon)
img MUKJIZAT PUISI: PANGGILAN SUARA HATI (14 January 2013, 299 views, 0 respon)
img PARADOKS SAPARDI DJOKO DAMONO (14 January 2013, 274 views, 0 respon)
img MENIKMATI PUISI, MENAFSIRI TEMPULING (14 January 2013, 81 views, 0 respon)
img CINTA KEPAYANG ABDUL WACHID BS (14 January 2013, 64 views, 0 respon)
img Studi Banding (14 January 2013, 25 views, 0 respon)
Maman S. MahayanaTulisan berjudul "PARADOKS SITUASIONAL" dipublikasikan oleh Maman S. Mahayana (Sunday, 22 April 2012 (11:39)) pada kategori Resensi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon, atau memberikan trackback dari web atau blog Anda.
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:

0 komentar terhadap “PARADOKS SITUASIONAL”

Komentar Anda?


«
»