SEOLAH-OLAH KRITIK SASTRA

Tuesday, 24 April 2012 (12:03) | 325 views | 0 komentar | Print this Article

SEOLAH-OLAH KRITIK SASTRA
Maman S Mahayana

EsaiKritik dan ‘Hama Sastra’” yang dimuat harian ini (PR, 19/9/2010), tak mubazir kiranya jika ditanggapi. Ia seolah-olah esaikritik sastra’ yang enak dibaca, mengalir lancar memainkan bahasa. Tetapi, di sana-sini, ramai sesat nalar dan salah data. Tulisan ini coba mengembalikan duduk perkaranya ke jalan yang benar.

Esai itu berangkat dari sebuah buku Damhuri Muhamad (DM), Darah Daging Sastra Indonesia (2010) yang memuat berbagai aspek sastra Indonesia: sejarah sastra, praktik kritik sastra, dan beberapa pandangan DM tentang kehidupan kesusastraan Indonesia. Meski pembaca berkuasa menanggapi—memaknai teks apa pun sebagaimana disarankan resepsi sastra, esai itu nyata benar telah mereduksi wacana keseluruhan isi buku.

Dengan mencomot satu konsepsi analogis: ‘hama sastra’ untuk menyebut kritik sastra yang tak sehat, esai DM yang lain, ditenggelamkan entah ke mana. Wacana yang lebih substansial, seperti problem sejarah sastra yang tersesat, perbincangan karya sebagai model kritik praktik (practical criticism) atau kritik terapan (applied criticism), dan berbagai kemungkinan pengembangan sastra Indonesia di masa depan, tak terbaca sama sekali.

Dalam sejarah sastra mana pun, perbalahan kritik sastra adalah rangkaian polemik pemikiran untuk menghindari stagnasi kehidupan sastra. Kritik sastra memainkan peranan mendorong perkembangan dunia sastra terus bergulir dinamis dan kreatif. Jika terjadi konflik sebagai ekor polemik, kemungkinan ada kepentingan ideologis yang melatarbelakanginya, seperti terjadi dalam perdebatan humanisme universal dan realisme sosialis. Selama tak ada kepentingan politik, selama itu pula tidak pernah terjadi konflik hanya lantaran polemik. Bukankah Polemik Kebudayaan, perdebatan Kritik Aliran Rawamangun vs Metode Kritik Ganzheit, penolakan konsep Angkatan 66, dan semangat estetik Angkatan 70-an, sampai ke sastra kontekstual, tidak ada konflik apa pun yang tertinggal. Camkanlah, kritik sastra adalah disiplin ilmu. Di sana bertaburan berbagai konsep dan istilah yang lahir melalui pergulatan panjang pemikiran. Oleh karena itu, pemahaman atas istilah atau konsep adalah cara belajar  yang bijak. Bukankah para siswa pun sudah memahami perbedaan polemik dengan konflik?

Perhatikan kutipan berikut dari esai itu: “Pada tahun 1940-an Chairil Anwar dan HB Jassin bertikai gara-gara Chairil tak suka kritik Jassin terhadap beberapa puisinya.” Dari mana sumber informasi ini? Kecuali soal buku yang dipinjam Chairil yang nyaris tak pernah dikembalikan, pertikaian Chairil dan Jassin tak menyangkut esai kritik Jassin. Pada zaman Jepang (1942—1945), dari 42 puisi yang dihasilkan Chairil Anwar, hanya satu yang dipublikasikan, yaitu puisi “Siap Sedia” (Keboedajaan Timoer, No. 3, Agustus 1945). Pada masa itu, Jassin coba menulis puisi dan beberapa esai. Setelah merdeka, sejumlah puisi Chairil Anwar dimuat majalah Pantja Raja (1946—1947) dan Gema Suasana (1947—1948) yang salah satu redakturnya, Chairil Anwar. Ia menawarkan puisi-puisinya pada Sutan Takdir Alisjahbana (STA) yang menjadi redaktur Balai Pustaka dan direktur penerbit Dian Rakyat. STA menolak, sebab dianggap tak sesuai pandangan estetikanya. Jassinlah penyelamat puisi-puisi Chairil Anwar. Terbitlah antologi Deru Tjampur Debu (Pembangunan, 1949) dan Kerikil Tadjam dan Jang Terempas dan Jang Putus (Pustaka Rakjat, 1949). Sementara Tiga Menguak Takdir (dipersiapkan sejak 1946, terbit 1950) adalah jawaban Chairil Anwar pada STA. Dari sana Jassin menulis sejumlah ulasan tentang puisi Chairil Anwar. Pertanyaannya: mungkinkah Chairil membaca esai-esai Jassin yang dipublikasikan setelah Chairil Anwar meninggal (28 April 1949).

***

Perlu dipahami, perspektif dalam kritik sastra bukanlah pendekatan. Ia bukan alat analisis. Ia masuk kategori model penilaian. Dalam kritik sastra, ada tiga jenis penilaian, yaitu penilaian absolut, relatif, dan perspektif. Penilaian absolut dipengaruhi positivisme ketika perkembangan ilmu pengetahuan alam menggiring penilaian pada perkara benar atau salah. Penilaian relatif didasarkan pada impresi kritikus. Oleh karena itu, sering juga dikatakan sebagai kritik impresionistik. Maka, sepuluh kritikus akan menghasilkan sepuluh penilaian. Adapun penilaian perspektif menekankan pada berbagai kemungkinan lain ketika satu pendekatan dengan teori tertentu, tak sesuai dengan unsur intrinsik karya yang diteliti. Jika begitu, perlu dicari dan ditemukan pendekatan atau teori yang lebih sesuai dan pas. Melalui penilaian perspektif inilah kekayaan teks digali-diungkap. Dari situlah pendekatan baru ditawarkan; teori baru dapat dirumuskan berdasarkan teks yang bersangkutan.

Mengenai definisi kritik sastra, tentu saja kita akan sia-sia menemukannya. Yang ada adalah rumusan glosarium yang menjelaskan tentang itu. Sejak Plato dalam Republic menerapkan teori sastra sebagai alat analisis atas puisi-puisi Homerus, lalu Aristoteles melengkapi dalam karyanya, Poetica, dan terus bergulir sampai abad XX saat Paul Henardi mempertanyakan kembali sebagaimana dinyatakan dalam judul bukunya, What is Criticism? (Bloomington: Indiana University Press, 1981), tak ada satu pun rumusan definisi kritik sastra yang mutlak, tahan uji, definitif, dan berlaku universal. Yang muncul adalah simpang-siur pemikiran tentang kritik sastra; bagaimana ia menjalankan fungsinya, mendasari pendekatannya, dan mengembangkan teori kritik sastra (theoretical criticism) yang representatif. Muaranya berkutat pada tiga bidang kegiatan, meliputi teori sastra (literary theory), sejarah sastra (literary history), dan kritik sastra (literary criticism). Objek kajiannya pengarang—teks—pembaca. Belakangan kajiannya melebar: memasukkan penerbit sebagai bagian dalam sistem produksi dan reproduksi, bahkan juga dengan sistem patronasi.

Penting dipahami: hakikat kritik sastra adalah penilaian. Di dalamnya melekat apresiasi. Jadi, bukan perkara pujian dan hujatan, melainkan elusidasi dan eksplanasi yang meliputi deskripsi, interpretasi, analisis, dan evaluasi. Esai itu keliru menempatkan hakikat kritik sastra. Kekeliruan elementer ini diperparah lantaran ia juga gagal memperoleh legitimasi. Pernyataan Suminto A Sayuti dikutip secara salah: “kritik sastra berfungsi memahami karya sastra ….” Secara holistik dan komprehensif, kritik sastra berfungsi memberi pemahaman (baca: bukan memahami) atas sebuah teks sastra. Ia boleh bertindak sebagai panduan, pencerah, dan pemberi jalan terang. Bahkan melalui teks, kritik sastra fungsional bertindak sebagai jembatan yang menghubungkan pengarang dengan pembaca. Teks itu representasi pengarang. Itulah yang diyakini Roland Barthes seperti ditulis dalam artikelnya “The Death of the Author” (Image-Music-Text. London: Routledge, 1977).

***

Sebagai usaha apresiasi, patutlah kita menghargai esai apa pun. Meski begitu, tindak serampangan yang berakibat pada sesat nalar dan salah data, selayaknya dihindarkan. Apalagi semangatnya mereduksi gagasan yang kompleks, jelas itu laku tak terpuji. Bukankah salah satu yang ditekankan kritik sastra adalah mencermati teks sebagai totalitas dan menguaknya secara holistik dan komprehensif? Nah, kiranya demikian! (Maman S Mahayana, Pengajar FIB-UI, Dosen Tamu Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea)

Tulisan lain yang berkaitan:

img Dunia Gila Kehidupan Gelandangan (19 February 2013, 88 views, 2 respon)
img SUARA HATI, SUARA TUHAN (14 January 2013, 128 views, 0 respon)
img POSISI PUISI, POSISI ESAI (14 January 2013, 118 views, 0 respon)
img MUKJIZAT PUISI: PANGGILAN SUARA HATI (14 January 2013, 297 views, 0 respon)
img PARADOKS SAPARDI DJOKO DAMONO (14 January 2013, 273 views, 0 respon)
img MENIKMATI PUISI, MENAFSIRI TEMPULING (14 January 2013, 80 views, 0 respon)
img CINTA KEPAYANG ABDUL WACHID BS (14 January 2013, 64 views, 0 respon)
img Studi Banding (14 January 2013, 25 views, 0 respon)
Maman S. MahayanaTulisan berjudul "SEOLAH-OLAH KRITIK SASTRA" dipublikasikan oleh Maman S. Mahayana (Tuesday, 24 April 2012 (12:03)) pada kategori Esai. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon, atau memberikan trackback dari web atau blog Anda.
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:

0 komentar terhadap “SEOLAH-OLAH KRITIK SASTRA”

Komentar Anda?


«
»