Monday, 9 July 2012 (18:34) | 145 views | 0 komentar | Print this Article
TAFSIR IDEOLOGIS MAHABHARATA
Judul: Gandamayu
Pengarang: Putu Fajar Arcana
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Cetakan: I, Januari 2012
Tebal: xv + 189 halaman
ISBN: 978-979-709-622-9
Cerita berbingkai (frame story), cerita melingkar (cycles of tales), atau cerita dalam cerita, konon sudah sejak abad ke-3 begitu populer di India. Mereka disebut: percakapan yang menyenangkan (Akhyayikakatha). Dari sana, pengaruhnya merayap ke Irak yang melahirkan Cerita Seribu Satu Malam dan Alibaba. Lalu melalui Turki dengan kisah-kisah Abu Nawas dan Nasruddin Hoja, memasuki Eropa dengan Rahmenerzahlung di Jerman dan raam verhael di Belanda. Di wilayah Nusantara datang melalui perkenalannya dengan Kalila dan Damina yang berasal dari mahakarya India, Pancatantra. Menyusul kemudian Seribu Satu Malam, Seribu Satu Hari, dan cerita-cerita binatang (fable).
Sejak terbit novel Indonesia modern yang dirintis para pengarang peranakan Tionghoa sampai sekarang, tiada henti kita menjumpai novel yang coba mengeksploitasi bentuk cerita seperti itu. Salah satunya, termasuklah novel Gandamayu (Jakarta: Penerbit Kompas, 2012, xv + 189 halaman) karya Putu Fajar Arcana. Lalu, apanya yang beda dari novel ini atau cuma sekadar bermain-main dengan model cerita berbingkai?
Pada awalnya, boleh jadi kita agak terganggu dengan model penceritaan seperti itu. Apalagi, di sana-sini, terjadi perubahan pencerita aku, saya, dan dia yang di dalam beberapa peristiwa, terkesan tak konsisten dan muncul seketika sebagai ketaksengajaan (hlm. 98—99, 104—109, 120). Tetapi, dengan cara itu pula sesungguhnya pengarang tampak lebih nyaman menyembunyikan pesan ideologinya. Setidaknya, ada tiga perkara yang coba digugat Putu Fajar Arcana melalui novel itu, yaitu makna epos Mahabharata, mitos para dewa, dan stigmatisasi peran perempuan.
Melalui tokoh Ayah, seorang petani yang pandai mabebasan (menembang) epos agung Ramayana dan Mahabharata dalam bahasa Jawa Kuna atau Kawi, pencerita saya seolah-olah hanya bertindak sebagai pendengar. Ia netral, tak berpihak, tak ikut bermain. Dengan begitu, di antara berkelindannya fakta-fiksi, sudut pandang (point of view) pencerita saya tetap terjaga netralitasnya. Padahal, jika dicermati benar, ada semacam tafsir—baru atas makna epos Mahabharata yang selama ini sudah menjadi pakem dunia pewayangan. Demikian juga dengan posisi para dewa yang citranya begitu luhur; seolah-olah sudah seharusnya begitu, take for granted. Jangan-jangan, di balik itu tersimpan legitimasi ideologis. Nah, dalam perkara itulah novel ini jadi begitu problematik.
***
Cerita bermula dari kisah Sahadewa yang tergolek di pekuburan Setra Gandamayu. Ia tak berdaya menghadapi maut. Setiap saat, Dewi Durga, raksasa buruk rupa, siap mencabut nyawanya. Belakangan diketahui, Durga mendapat kutuk. Ia akan kembali cantik jika diruwat Sahadewa. Kutuk itu sendiri terjadi lantaran Durga yang di kahyangan bernama Dewi Uma, bermaksud menunjukkan kesetiaan dan kecintaannya pada suami, Dewa Siwa. Demi suami, ia terpaksa bersebadan dengan seorang gembala—yang tidak lain adalah penyamaran diri suaminya. Tetapi, tindakan itu dianggap dosa. Kutuk pun ditimpakan. Jadilah, Dewi Uma yang cantik berubah wujud menjadi raksasa Durga.
Penggelandangan Sahadewa terus berlanjut. Sementara itu, pecahnya konflik Pandawa—Korawa sudah mendekati titik menentukan: kemenangan atau kekalahan. Maka, selepas pertemuan Sahadewa dan kembarannya, Nakula, yang membawanya pada pernikahan Sahadewa—Diah Padapa dan Nakula—Diah Soka, kakak—beradik itu kembali ke Pandawa. Berkat bantuan keduanya, Korawa dapat dikalahkan.
Kisah itulah yang coba diangkat Putu Fajar Arcana. Tetapi, jika cuma fragmen epos Mahabharata an sich, pengarang sekadar membuat model transformasi, meski di sana ada tafsir dan pemaknaan baru. Sangat boleh jadi juga membawa implikasi pada reaksi penolakan, lantaran Arcana—sebagai seorang Bali—dianggap melanggar pakem. Jadi, dengan kesadaran itu, ia mesti memakai cara lain yang memungkinkan punya ruang yang lebih luas untuk menyelusupkan pemihakan dan pesan ideologisnya. Di situlah kehadiran pencerita aku dan posisi tokoh ayah sebagai penembang epos menunjukkan buah kreativitas yang cerdas.
Pilihan pada bentuk pencerita seperti itu, juga bukan tanpa risiko. Pusat penceritaan (focus of narration) jadi seperti terpecah. Ada keinginan untuk membaurkan fiksionalitas Mahabharata sebagai bagian fakta yang tak terpisahkan dari tradisi masyarakat. Oleh karena itu, penghadiran tokoh Ayah sebagai penembang epos, secara fungsional memainkan peran katalisator. Di sisi yang lain, masuknya semacam selingan dengan penghadiran selewatan tokoh ksatria yang dikutuk jadi harimau lantaran membunuh istrinya (hlm. 78—80) dan tokoh Pan dan Men Bekung saat jumpa Nakula (hlm. 102—107), justru mengendorkan pusat perhatian pada semangat mengangkat superioritas Sahadewa.
Persoalannya berbeda dengan keluar—masuknya si pencerita saya—Ayah. Di sana, dengan katalisator sang ayah, peran pencerita penting artinya dalam mengelindankan fakta—fiksi. Tetapi saat masuk pada peristiwa perang Mahabharata (hlm. 125—177), si pencerita saya—ayah, seperti lesap entah di mana. Akibatnya, peristiwa itu terkesan sebagai tempelan. Begitulah teknik penceritaan apa pun yang dipakai pengarang, selalu ada implikasi di belakangnya. Di sinilah keberimbangan bagian demi bagian tidak sekadar mempertahankan proporsionalitas, melainkan juga menjaga pusat penceritaan tidak terpecah-pecah.
Di luar perkara tadi, simpang-siur peristiwa itu kembali tersambungkan dan membentuk benang merah yang cantik manakala kita mencermati bagian terakhir novel itu (“Bayang-Bayang Matahari” hlm. 179—186). Sebuah penutup yang pas-mantap dan berhasil menjernihkan hakikat persoalan yang berada di belakang segala peristiwa itu. Dengan begitu, kehadiran novel ini inspiring, bahwa revitalisasi khazanah sastra Indonesia, teristimewa pada karya-karya agung, perlu terus dilakukan untuk menemukan makna baru dan konteksnya sesuai perkembangan zaman. Segalanya mesti ditempatkan sebagai sesuatu yang belum selesai, terus berproses dalam labirin makna melalui berbagai perspektif dan tafsir baru. Putu Fajar Arcana telah menunjukkannya dengan sangat lihai dan asyik! (Maman S Mahayana, Pengajar FIB-UI, Dosen Tamu di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan)
Tulisan lain yang berkaitan:
Tulisan berjudul "TAFSIR IDEOLOGIS MAHABHARATA" dipublikasikan oleh Maman S. Mahayana (Monday, 9 July 2012 (18:34)) pada kategori Resensi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon, atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
0 komentar terhadap “TAFSIR IDEOLOGIS MAHABHARATA”
Komentar Anda?












