Archive for the ‘Esai’ Category

17
Nov

KEINDONESIAAN IDENTITAS INDONESIA

   Posted by: MahaDewa Tags: ,

Maman S. Mahayana

Tulisan Seno Gumira Ajidarma, “Keindonesiaan” (Kompas, 12 Februari 1995), sungguh cerdas dan menarik untuk didiskusikan. Tulisan ini mencoba untuk memberi catatan kecil terhadapnya.

Dalam berkesenian, nama (identitas) sememangnya tidaklah lebih penting dari karyanya sendiri. Nama besar dengan karya picisan, bukanlah sebuah prestasi yang membanggakan. Sebab, yang penting adalah: dapatkah karyanya menjadi sebuah monumen hingga nama sang pencipta menjadi masyhur. Kemasyhuran nama yang terangkat oleh karya itu, di zaman modern acapkali dihubungkan dengan trade mark. Ciri karya seseorang yang berbeda dengan karya yang lain. Implikasinya adalah kekhasan. Read the rest of this entry »

17
Nov

TENTANG KATA : DIKTATOR

   Posted by: MahaDewa Tags: ,

Maman S Mahayana

DIKTATOR. Ini sebuah kata yang menakutkan. Maknanya pun bermacam- macam, bergantung konteks, situasi dan mayarakat pemakai. Secara etimologis, kata ini berasal dari bahasa Latin, dictatore, dictator (oris), dictare, dictatura (ae). Maknanya perintah, komandan, pemimpin. Dalam kamus Latin—Indonesia (Ver Hoeven dan Marcus Carvallo, 1969), ada lima makna menyertai kata diktator, yaitu orang yang mengimlakan, yang berperintah, panglima tertinggi, diktator, panitera, pengarang, penggubah. Read the rest of this entry »

KEGELISAHAN TANDA HIDUP
Maman S Mahayana

Kegelisahan tanda hidup: itulah yang memaksa manusia terus memelihara dinamika dan berkembang dengan berbagai kreativitasnya. Itulah yang menyebabkan para penulis—sastrawan, terus berkarya sepanjang usianya. Tak ada kata pensiun bagi penulis selama nyawanya belum melayang. Dan kegelisahan itu lahir dari sebuah elan yang datang bukan sekadar fanta rhei, segalanya mengalir dinamis, melainkan juga mengalir dengan semangat membangun sesuatu yang baru, mencipta dan menegakkan monumen. Read the rest of this entry »

1
Nov

MEMBACA SEMANGAT KOREA

   Posted by: MahaDewa Tags: ,

MEMBACA PANORAMA CERPEN KOREA
Maman S. Mahayana

Apa yang dikatakan Alexandre Sergevich Pushkin (1799—1837), tokoh pembaharu kesusastraan Rusia, tentang seorang penerjemah? “Penerjemah itu laksana kuda beban. Ia membawa harta kebudayaan sebuah bangsa dari satu negeri ke negeri lain.” Begitulah, berkat peran yang dimainkan seorang penerjemah, bangsa yang berada di negeri lain itu, serta-merta dapat menikmati harta kebudayaan bangsa lain. Terjadi pengenalan dan pemahaman tentang kebudayaan lain yang mungkin sebelumnya begitu asing dan berada nun jauh di sana. Read the rest of this entry »

29
Oct

BERCINTA DENGAN ALAM, BERCINTA DENGAN TUHAN?

   Posted by: MahaDewa Tags: ,

Maman S Mahayana

Puisi (: sastra), bagi Malaysia adalah spirit kebudayaan. Ia dapat dimaknai sebagai alat perjuangan kebudayaan; maruah kemelayuan. Pada dasawarsa 1950-an, misalnya, sastra memancarkan semangat nasionalisme. Kemerdekaan Indonesia telah memberi inspirasi untuk melakukan hal yang sama. Maka, gerakan kebudayaan itu kemudian menjadi gerakan kebangsaan. Mengingat tumbuhnya nasionalisme di Malaysia itu sejak awal dimainkan para sastrawan dan guru—seperti juga yang terjadi di Indonesia—tidak mengherankan jika peran mereka menjadi sangat penting ketika itu. Dan sastra menjadi alat perjuangan yang efektif dalam mengobarkan semangat nasionalisme. Read the rest of this entry »

29
Oct

MEMBINCANGKAN TIGA CERPEN GUS MUS

   Posted by: MahaDewa Tags: ,

Maman S Mahayana

Ketika tahun 1970-an sastra Indonesia dilanda semangat eksperimentasi, sejalan dengan gerakan “kembali ke akar, kembali ke tradisi” sebagaimana yang diusung Abdul Hadi WM, kisah-kisah dunia jungkir balik dalam prosa, termasuk di dalamnya cerita pendek (cerpen), seperti menemukan pembenaran estetik. Absurdisme, melalui perkenalkannya dengan filsafat eksistensialisme, dipandang sebagai representasi dunia jungkir balik itu. Belakangan disadari, bahwa kisah-kisah supernatural dalam khazanah sastra tradisional kita yang tersebar di seluruh Nusantara, pada hakikatnya tidaklah berbeda dengan dunia jungkir balik yang berada di entah-berantah itu. Read the rest of this entry »

3
Mar

PUISI SEBAGAI KATA HATI (2)

   Posted by: MahaDewa Tags: ,

Maman S Mahayana

Konon, salah satu fungsi sastra adalah menjadikannya semacam katarsis: pelepasan emosi ketika berbagai masalah melimpah, bertumpuk-tumpuk, membebani, dan menghimpit segala gerak pikir dan gerak rasa kita. Sastra dapat melepaskan sebagian dari segala beban itu. Di samping itu, sastra –dengan atau tanpa pretensi— sering juga dipandang sebagai ungkapan jujur dari perasaan yang terdalam. Bagi kaum romantik, sastra (: puisi) adalah limpahan perasaan yang meluap yang timbul dari renungan dalam ketenangan –atau juga dalam kegelisahan. Mereka mengusung semangat pengungkapan perasaan yang terdalam, luapan emosi yang spontan, dan ketulusan hati dalam mengangkat nilai-nilai kemanusiaan. Read the rest of this entry »

3
Mar

PUISI SEBAGAI KATA HATI (1)

   Posted by: MahaDewa Tags: ,

Kegelisahan Sekjen Departemen Pertanian

Maman S. Mahayana

Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian, Memed Gunawan, M.Sc., Ph.D. meluncurkan dua antologi puisinya, Ladang Berselimut Kabut (Jakarta, 2005; xi + 74 halaman) dan Setangkai Padi, Seisi Negeri (Jakarta, 2005; ix + 85 halaman). Taufiq Ismail dalam Kata Pengantarnya, berharap: “Betapa dahsyatnya kalau Sekjen-Sekjen Departemen lain juga menulis kumpulan puisi dalam bidangnya masing-masing.” Pertanyaannya kini: Apanya yang dahsyat? Read the rest of this entry »

18
Feb

MEMBACA PANORAMA CERPEN KOREA

   Posted by: MahaDewa Tags: ,


Maman S. Mahayana*

Apa yang dikatakan Alexandre Sergevich Pushkin (1799—1837), tokoh pembaharu kesusastraan Rusia, tentang seorang penerjemah? “Penerjemah itu laksana kuda beban. Ia membawa harta kebudayaan sebuah bangsa dari satu negeri ke negeri lain.” Begitulah, berkat peran yang dimainkan seorang penerjemah, bangsa yang berada di negeri lain itu, serta-merta dapat menikmati harta kebudayaan bangsa lain. Read the rest of this entry »

18
Feb

PANORAMA SASTRA INDONESIA

   Posted by: MahaDewa Tags: ,

Naskah Pidato Penerimaan Hadiah Sastera Majelis Sastera Asia Tenggara (Mastera)
Atas buku Sembilan Jawaban Sastra Indonesia
Berjaya Times Square Hotel Kuala Lumpur, 27 November 2007

Sastra Indonesia adalah lanskap pelangi; warna-warni dengan beragam cabaran ideologinya. Ia bagai taman bunga dengan tetumbuhannya yang semarak, dedaunannya yang rimbun, meski di sana tumbuh pula mawar berduri. Di taman itu, orang-orang boleh duduk bercengkerama, memadu kasih, memetik beberapa tangkai bunga untuk dipajang di dalam rumah atau mencampakkannya begitu saja. Taman itu milik semua dan sesiapa pun, boleh ikut memeliharanya; menanam pepohonan baru atau menyiraminya agar tetap segar sambil memberinya rabuk atau melakukan persilangan.

Sastra Indonesia adalah hutan belantara dengan aneka ragam kekayaan pepohonannya yang eksotik bersama kehidupan masyarakatnya yang tidak dapat melepaskan diri dari kultur yang telah melahirkan dan membesarkannya. Dan kita, sungguh tidak dapat menafikan ruh kultur etnik yang menjiwai sastra Indonesia. Read the rest of this entry »