Maman S. Mahayana
Keberpihakan menafikan netralitas. Ia muncul lantaran ada kepentingan subjektif. Dalam hal ini, objektivitas menjadi tidak lagi penting. Mengingat keberpihakan dilatarbelakangi kepentingan subjektif, maka pencapaian tujuan yang melatardepaninya. Di sini, segala cara cenderung menjadi sah, sejauh target dapat diraih. Read the rest of this entry »
Perbandingan Pantun Melayu, Jawa, Madura, dan Betawi
Maman S Mahayana
Pantun bagi masyarakat di kawasan Nusantara ibarat sesuatu yang begitu dekat, tetapi kini terasa jauh ketika budaya populer (low culture) makin menjadi primadona dalam industri hiburan. Dalam kondisi itu, pantun kini laksana pepatah, tak kenal maka tak sayang. Itulah yang terjadi pada pantun. Seolah-olah, ia hanya produk masa lalu yang sudah usang dan tiada berguna. Bahkan, bagi anak-anak muda di Jakarta dan beberapa kota besar di Jawa, pantun seperti tidak lebih dari sekadar produk budaya Melayu, dan oleh karena itu, dianggap hanya milik orang Melayu. Read the rest of this entry »
Maman S. Mahayana
Gemuruh puisi “Penyair Rencong” Fikar W. Eda membawa hipnotis. Ia menyihir, menciptakan hening. Tak biasa suaranya agak tersendat, berat dan merintih. Selepas itu, ia terhenyak. Lunglai. Jelas, hatinya pecah. Ketika presenter Metro TV bertanya, Fikar tergagap seperti kehilangan akal. Ada bening kaca menetes dari matanya. Di rumah, di depan layar kaca, kami ikut terisak. Tak kuasa memandang tayangan tv tentang tsunami yang terjadi Minggu pagi. Terhampar gelimpangan mayat membentang sepanjang jalan, berserakan di halaman masjid Baiturrahman, dan tersangkut di pojok-pojok selokan. Aceh meleleh, merobek hati kami. Rencong yang terpampang di dinding, seperti terbelah patah. Karismanya pudar. Read the rest of this entry »
Maman S Mahayana
Konon, lapisan ozon kini makin menipis. Tanpa lapisan itu, manusia segera akan tertimpa penyakit kanker kulit, katarak mata, dan berbagai penyakit lain. Panas bumi juga akan meningkat. Jika itu terjadi maka Singapura, akan tinggal sebagai negara yang pernah ada dan kini berada di dasar laut. Sebagian besar Jakarta tenggelam karena mencairnya es di kutub Utara dan Selatan. Jagat raya tinggal menunggu kehancurannya. Pemanfaatan, eksplorasi, dan eksploitasi alam secara tak terkendali mempercepat proses penghancuran planet bumi ini. Itulah beberapa masalah yang ditimbulkan akibat pencemaran alam. Dampak pemanasan global memang tidak dapat dibuat main-main. Read the rest of this entry »
Maman S. Mahayana
Ketika Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, menegaskan pernyataan sikap para pemuda Indonesia yang mengaku: “bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia; berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia,” saat itulah sesungguhnya identitas etnis –diwakili Jong Java, Jong Soematra (Pemoeda Soematra), Pemoeda Indonesia, Sekar Roekoen, Jong Bataksbond, Jong Celebes, Pemoeda Kaoem Betawi dan Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia—dan agama –diwakili Jong Islamieten—tiba-tiba seperti melekat masuk ke dalam semangat kebangsaan atas nama Indonesia. Read the rest of this entry »
Maman S. Mahayana
Apakah pengajaran sastra (Indonesia) di sekolah bertujuan agar siswa (a) menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, dan (b) menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia, atau agar siswa memperoleh pengetahuan (a) tentang sastra dengan berbagai teori dan (b) nama pengarang, judul, dan angkatan-angkatan? Read the rest of this entry »
Maman S Mahayana
Novel Ayat-Ayat Cinta (2004) karya Habiburrahman El Shirazy, secara sosiologis, tak pelak lagi, telah menancapkan dirinya sebagai novel paling laris, paling banyak dibaca, dan luar biasa fenomenal. Dalam perjalanan sastra Indonesia, baru kali inilah sebuah novel meraup angka penjualan yang sangat mencengangkan. Jika novel itu kemudian difilmkan dan berhasil menyedot jumlah penonton yang juga mencengangkan, tentu saja sukses itu, terutama, tidak terlepas dari kehebohan yang diciptakan karya Habiburrahman itu. Dari sana lalu muncullah wacana tentang sastra Islam; sebuah fenomena yang wajar dari sebuah kegandrungan yang tanpa sadar menciptakan kelatahan. Read the rest of this entry »
Maman S Mahayana
Jika diyakini sastra sebagai ruh kebudayaan, maka sastra sesungguhnya dapat digunakan sebagai salah satu pintu masuk memahami kebudayaan sebuah bangsa. Bagaimanapun juga, sastra merupakan representasi kegelisahan sastrawan. Ia lahir dari proses yang rumit pengamatan, pencermatan, pengendapan, dan pemaknaan sastrawan atas kehidupan ini. Lebih khusus lagi, atas fenomena tindak berkebudayaan sebuah komunitas sosial. Itulah sesungguhnya tanggung jawab sastrawan (seniman) pada kebudayaan, pada kehidupan. Read the rest of this entry »
Maman S. Mahayana
Lokalitas (locality) sebagai konsep umum berkaitan dengan tempat atau wilayah tertentu yang terbatas atau dibatasi oleh wilayah lain. Lokalitas mengasumsikan adanya sejumlah garis pembatas yang bersifat permanen, tegas, dan mutlak yang mengelilingi satu wilayah atau ruang tertentu. Dalam konsep politik, terutama yang berkaitan dengan kekuasaan dan penguasaan wilayah, lokalitas dengan sejumlah garis pembatas yang dimilikinya itu diandaikan pula seperti berhadapan dengan kepungan garis pembatas lain sebagai simbol atau representasi kekuasaan lain dalam posisi yang bisa bersifat arbitrer atau bisa juga dalam posisi yang saling mengancam. Read the rest of this entry »
Maman S. Mahayana
Sistem penerbitan yang awal dalam kesusastraan Indonesia modern memperlihatkan betapa pengaruh kekuasaan pemerintah Belanda begitu dominan dalam menentukan arah perjalanan kesusastraan bangsa ini. Jika dikatakan, sejarah selalu berpihak pada penguasa, maka itulah yang terjadi dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Riwayat perjalanannya penuh dengan pemanipulasian, perekayasaan, penenggelaman, dan penyesatan. Tetapi lantaran sejarah milik penguasa, bahkan penguasa itu juga sengaja menciptakan sejarahnya sendiri, maka yang kemudian bergulir adalah sebuah mainstream yang menyimpan kepentingan politik penguasa. Read the rest of this entry »