Posted by: MahaDewa in Esai
Maman S Mahayana*
Judul: Jendela-Jendela, Penulis: Fira Basuki, Penerbit: Grasindo, Jakarta, Cetakan I, Juli 2001, Tebal: 151 halaman
Setelah Ayu Utami (Saman, 1998), Oka Rusmini (Tarian Bumi, 2000), dan Dewi Lestari (Dee) (Supernova, 2001), kini muncul satu lagi novelis wanita, Fira Basuki, lewat novelnya, Jendela-Jendela; sebuah karya yang penuh pengharapan. Ia hadir dengan gaya yang berani dan menjanjikan. Read the rest of this entry »
Tags: Apresiasi Sastra, Maman S Mahayana
Posted by: MahaDewa in Esai
Maman S. Mahayana
Sebuah amplop tak terlalu besar, tergeletak di meja kerja. Pasti kiriman buku, pikirku. Dalam sebulan, selalu saja ada dua atau tiga bungkusan seperti itu dikirim teman sastrawan dari berbagai daerah. Meski hampir tak pernah berkirim balasan, aku selalu berterima kasih. Juga berdoa agar mereka terus berkarya dan punya semangat dan napas kreatif yang panjang. Kupikir, doa jauh lebih bermakna ketimbang balasan basa-basi. Read the rest of this entry »
Tags: Apresiasi Sastra, Maman S Mahayana
Posted by: MahaDewa in Esai
Maman S. Mahayana
Umar Kayam dalam peta kesusastraan Indonesia mencuat namanya ??terutama?? karena cerpen panjangnya “Sri Sumarah” dan “Bawuk” (1975) serta beberapa cerpen lainnya yang dimuat di majalah Horison. Kini ia telah meninggalkan kita dengan sejumlah warisan berupa sejumlah cerpen, buku esai, dan dua buah novel: Para Priyayi Read the rest of this entry »
Tags: Apresiasi Sastra, Maman S Mahayana
Posted by: MahaDewa in Esai
Maman S. Mahayana
Kelahiran sastra Indonesia modern pada hakikatnya dilatarbelakangi oleh tiga hal.
Pertama, sastra Indonesia modern lahir sebagai hasil pertemuan dengan budaya Barat yang lalu wujud dalam bentuk sastra tulis. Perhubungan dengan agama Islam yang melahirkan tulisan Jawi merupakan awal tradisi lisan (oral tradition), mulai tersisih oleh berbagai ragam sastra tulis dalam bentuk cetakan dengan menggunakan huruf Latin. Read the rest of this entry »
Tags: Apresiasi Sastra, Maman S Mahayana
Posted by: MahaDewa in Esai
Maman S. Mahayana
Penyair sejati adalah pewarta yang menyampaikan sesuatu tidak untuk dirinya sendiri. Ia bukan sosok penyanyi di kamar mandi. Maka kegelisahan individu yang mengganggu seorang penyair, mesti berbuah menjadi problem yang menyangkut dan berkaitan dengan dunia sekitarnya. Kegelisahan seorang penyair –atau sastrawan dan seniman pada umumnya—mestilah merepresentasikan problem individu dalam berhadapan dengan situasi sosio-kultural yang melingkarinya. Read the rest of this entry »
Tags: Apresiasi Sastra, Maman S Mahayana
Posted by: MahaDewa in Esai
Maman S. Mahayana
Sastra sejatinya bukanlah sekadar menampilkan sebuah dunia rekaan, bukan pula semata-mata menghadirkan peristiwa-peristiwa imajinatif. Ia dapat diperlakukan sebagai potret sosial jika di dalamnya terungkap problem dan kegelisahan yang terjadi di dalam kehidupan kemasyakaratan. Dengan demikian, sastra dapat dipandang sebagai dokumen sosial; sebagai cermin masyarakat atau pantulan hasrat terpendam dan semangat individu atau komunitas yang (mungkin) menjadi harapan sastrawannya. Read the rest of this entry »
Tags: Apresiasi Sastra, Maman S Mahayana
Posted by: MahaDewa in Esai
Maman S. Mahayana
Dalam sejarah peradaban umat manusia, hubungan manusia dengan Tuhan selalu diwujudkan lewat berbagai cara; melalui berbagai saluran. Lihatlah masyarakat Yunani kuno yang melakukan pemujaan kepada para dewa melalui pementasan-pementasan drama; Read the rest of this entry »
Tags: Apresiasi Sastra, Maman S Mahayana
Posted by: MahaDewa in Esai
Maman S Mahayana
Nama Suratman Markasan, bagi pembaca Indonesia, barangkali saja masih agak-agak asing. Sesungguhnya, sastrawan penting Singapura ini, sudah dikenal luas, setidak-tidaknya di Malaysia, Singapura, Brunei, dan Riau. Ia termasuk salah seorang pemenang SEA Write Award yang diberikan tahun 1989. Penghargaan itu, tentu saja merupakan bukti prestasi kepengarangannya yang berdasar pada pertimbangan kualitas karya-karya yang telah dihasilkannya. Read the rest of this entry »
Tags: Apresiasi Cerpen, Maman S Mahayana
Posted by: MahaDewa in Esai
Maman S Mahayana
Perkembangan cerpen Indonesia mutakhir, terutama memasuki satu dasawarsa 1980-an, tidak pelak lagi, banyak ditentukan oleh perkembangan media massa. Majalah Horison yang sudah sejak lama dipandang sebagai majalah sastra—satu-satunya—yang sering juga dijadikan sebagai ‘barometer’ bagi para cerpenis pemula, kini tidak lagi dianggap demikian. Read the rest of this entry »
Tags: Apresiasi Cerpen, Maman S Mahayana
Posted by: MahaDewa in Esai
Maman S Mahayana
Hery Mardianto, dkk. (editor), Pagelaran: Antologi 17 Cerpen
(Bentang Intervisi Utama, Yogyakarta: 1993) xxxiv + 152 halaman.
Ada kecenderungan baru dalam perkembangan cerpen Indonessia belakangan ini: munculnya antologi cerpen karya beberapa pengarang yang terbit di luar Jakarta. Read the rest of this entry »
Tags: Apresiasi Cerpen, Maman S Mahayana