Archive for November, 2008

27
Nov

POLITIK DALAM SASTRA ZAMAN BALAI PUSTAKA

   Posted by: MahaDewa    in Artikel

Maman S. Mahayana

Membandingkan novel Sitti Nurbaya dengan karya sastra yang terbit melampaui zamannya dari belahan bumi mana pun, tentu saja dibolehkan. Begitu juga tak ada undang-undang yang melarang mencantelkan tema atau konteks novel itu dengan kondisi sosio-budaya yang terjadi pada masa kini. Bukankah kita –masyarakat sastra—meyakini, bahwa begitu karya itu terbit dan kemudian menyebar ke khalayak pembaca, seketika pula ia bebas dimacam-macami. Pembaca punya hak penuh memperlakukannya sekehendak hati, termasuk dalam hal memaknainya. Read the rest of this entry »

Tags: ,

27
Nov

EKSPERIMENTASI DJENAR MAESA AYU DALAM “SMS”

   Posted by: MahaDewa    in Artikel

Maman S. Mahayana

Djenar Maesa Ayu mencuat namanya bersamaan dengan maraknya isu sastra wangi, sebuah ungkapan bernada miring yang ditujukan pada beberapa artis cantik yang terjun ke dunia sastra. Maka, selepas terbit antologi cerpennya, Mereka Bilang, Saya Monyet! (2003), nada miring itu pun sepertinya melekat begitu saja. Namanya juga isu. Ia masih saja bergentayangan. Bahkan, ketika cerpennya “Waktu Nayla” terpilih sebagai Cerpen Terbaik Kompas 2003, publik sastra masih juga belum begitu yakin atas prestasi Djenar. Keberhasilan sebelumnya yang menempatkan cerpennya “Menyusu Ayah” sebagai Cerpen Terbaik 2002 versi Jurnal Perempuan, seolah-olah tak berarti apa-apa. Read the rest of this entry »

Tags: ,

27
Nov

POTRET GANDA NAYLA—DJENAR MAESA AYU

   Posted by: MahaDewa    in Artikel

Maman S. Mahayana

Djenar Maesa Ayu lewat dua antologi cerpennya, Mereka Bilang, Saya Monyet! (2003) dan Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) (2004), tak pelak lagi, telah berhasil menjejerkan namanya dalam deretan penting sastrawati Indonesia. Ia juga mengambil posisi khas yang domainnya tak banyak dimasuki sastrawan Indonesia lainnya. Kini, ia meluncurkan novel pertamanya, Nayla (Gramedia Pustaka Utama, 2005, 178 halaman). Read the rest of this entry »

Tags: ,

27
Nov

PROBLEM EKSISTENSIAL CINTA TAI KUCING!?

   Posted by: MahaDewa    in Artikel

Maman S. Mahayana

“Realitas manusia adalah bebas, pada dasarnya dan sepenuhnya bebas!” demikian semangat yang dikumandangkan Sartre. Hanya dengan kebebasan, manusia akan menyadari eksistensinya, dan sekaligus dapat membentuk individu yang berpribadi. “Jadilah diri sendiri, dan hiduplah sebagai manusia unggul!” begitulah penegasan Nietzsche dalam fatwa eksistensialismenya. Meski disadari tidak ada kebebasan mutlak, bagi seorang eksistensialis, independensi merupakan hal yang mutlak perlu. Tanpa itu, ia akan kehilangan kebebasannya dan akan tetap meringkuk dalam ketiak individu lain. Itulah problem eksistensial yang tampak dalam diri hampir semua tokoh cerpen antologi Cinta? Tai Kucing! karya Maroeli Simbolon (Yogyakarta: Jalasutra, 2003; ix + 152 halaman). Read the rest of this entry »

Tags: ,

27
Nov

CERPEN INDONESIA KONTEMPORER

   Posted by: MahaDewa    in Artikel

Maman S. Mahayana

Dalam perjalanan sastra Indonesia, periode pasca-reformasi merupakan masa paling semarak dan luar biasa. Kini, karya-karya sastra terbit seperti berdesakan dengan tema dan pengucapan yang beraneka ragam. Faktor utama yang memungkinkan sastra Indonesia berkembang seperti itu, tentu saja disebabkan oleh perubahan yang sangat mendasar dalam sistem pemerintahan. Kehidupan pers yang terkesan serbabebas-serbaboleh ikut mendorong terjadinya perkembangan itu. Maka, kehidupan sastra Indonesia seperti berada dalam pentas terbuka. Di sana, para pemainnya seolah-olah boleh berbuat dan melakukan apa saja. Read the rest of this entry »

Tags: ,

27
Nov

TAFSIR SEJARAH DALAM NOVEL “SALAH ASUHAN”

   Posted by: MahaDewa    in Artikel

5-salah-asuhanMaman S Mahayana

Setiap karya sastra adalah hasil pengaruh yang rumit dari faktor-faktor sosial-politik-kultural. Novel Salah Asuhan (1928) karya Abdoel Moeis, juga kelahirannya tak dapat dilepaskan dari faktor-faktor tersebut. Itulah sebabnya, usaha mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi dibalik teks Salah Asuhan, penting artinya untuk menangkap amanat pengarangnya yang juga berkaitan erat dengan situasi sosial dan semangat zamannya. Read the rest of this entry »

Tags: ,

27
Nov

SCIENCE FICTION SUPERNOVA

   Posted by: MahaDewa    in Artikel

Maman S. Mahayana

Dua tanggapan atas Supernova yang dimuat Kompas (C. Sri Sutyoko Hermawan, Kompas, 11/3/2001 dan Tommy F. Awuy, Kompas, 18/3/2001) memperlihatkan kecerdasan kedua penulisnya dalam menganalisis novel karya Dee (Dewi Lestari) itu. Sebagai sebuah kritik umum, kedua tulisan itu berhasil menyajikan sebuah apresiasi. Ia dapat merangsang pembaca untuk menyimak sendiri novel itu. Bahkan, Hermawan, berhasil pula menguak sejumlah kontradiksi yang disajikan Supernova. Dengan begitu, ia sekaligus memberi dua kemungkinan penafsiran, yaitu sebagai kelemahan novel itu atau kompleksitas problem tematisnya. Apapun hasil penafsirannya, bukan lagi menjadi soal. Sebab, masalah itu memang sangat bergantung pada wawasan pembacanya sendiri. Read the rest of this entry »

Tags: ,

27
Nov

CERPEN-CERPEN PUITIK MAROELI

   Posted by: MahaDewa    in Artikel

Maman S. Mahayana

“Tengah malam tuba. Angin berdesir. Beribu ular berdesir. Tanganku berdesir. Itu tubuh/mengucur darah/mengucur darah.” Itulah kalimat-kalimat pembuka “Solilokui Ungu,” sebuah cerpen yang mengawali antologi cerpen Bara Negeri Dongeng (Yogyakarta: Jalasutra, September 2002, 183 halaman) karya Maroeli Simbolon. Di sana ada penggalan-penggalan puisi “Isa” karya Chairil Anwar. Dan secara cerdas Maroeli berhasil memanfaatkannya menjadi bagian integral dari bangunan keseluruhan cerita yang disajikan. Read the rest of this entry »

Tags: ,

27
Nov

AJIP ROSIDI: MEMBACA DAN MENULIS TANPA AKHIR

   Posted by: MahaDewa    in Artikel

Maman S. Mahayana

Mungkinkah seorang yang tak lulus SMA dapat menjadi guru besar? Di Indonesia yang segala sesuatunya sering harus berurusan dengan aturan birokrasi, pemberian gelar kehormatan, seperti doktor honoris causa, misalnya, barangkali akan menimbulkan masalah. Itulah yang terjadi pada diri Ajip Rosidi. Ia –konon—tak dapat memperoleh gelar itu lantaran pendidikannya tak sampai sarjana. Ajip memang tak tamat SMA. Tetapi berkat hasil bacaan yang sangat luas dan karya-karyanya yang berlimpah, pada tahun 1967 sampai 1970, ia dipandang pantas untuk menjadi dosen luar biasa di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Bandung. Read the rest of this entry »

Tags: ,

27
Nov

SASTRA INDONESIA DALAM PERSPEKTIF MULTIKULTURALISME*

   Posted by: MahaDewa    in Artikel

Maman S. Mahayana

Multikulturalisme adalah sebuah filosofi liberal dari pluralisme budaya demo-kratis. Multikulturalisme didasarkan pada keyakinan bahwa semua kelompok budaya secara sosial dapat diwujudkan, direpresentasikan, dan dapat hidup berdampingan. Selain itu, diyakini pula bahwa rasisme dapat direduksi oleh penetapan citra positif keanekaragaman etnik dan melalui pengetahuan kebudayaan-kebudayaan lain. Read the rest of this entry »

Tags: ,