Posts Tagged ‘Apresiasi Puisi’

29
Oct

SUASANA GELISAH DALAM PRIBADI PENGELANA

   Posted by: MahaDewa    in Esai

Maman S Mahayana

Konon, ketika seseorang begadang di padang lapang, berdiri sendiri kedinginan di ketinggian hamparan pegunungan, gemetar di tengah gelombang lautan atau terkucil asing di belantara rimba raya, ketakjuban pada alam bisa saja datang secara tiba-tiba dan serempak menguasai pikiran dan sekujur rasa kita. Saat-saat seperti itulah, seseorang bisa mendadak gamang, hanyut dalam pesona yang tak dipahaminya atau malah menambah beban pertanyaan pada sesuatu yang diyakini telah menjadi rahasia. Read the rest of this entry »

Tags: ,

29
Oct

PERCINTAAN DENGAN ALAM

   Posted by: MahaDewa    in Esai

Maman S Mahayana

Sejumlah kritikus sastra yang berorientasi pada pendekatan sosio-kultural, berkeyakinan bahwa karya sastra tidak lahir secara serta-merta. Ia mula-mula sangat mungkin lahir dari sebuah peristiwa sebagai pengalaman selintasan, atau pengalaman melihat, mendengar, merasakan, bahkan sampai pada pengalaman dahsyat yang menakjubkan—menakutkan. Segala pengalaman itu mengeram, menduduki singgasana memori yang tak gampang dihilangkan begitu saja. Read the rest of this entry »

Tags: ,

29
Oct

MENCARI TUHAN KE ENTAH

   Posted by: MahaDewa    in Esai

Maman S. Mahayana

Dalam sejarah peradaban umat manusia, pengagungan terhadap sesuatu yang transenden telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sikap religiositas manusia itu sendiri. Manusia pada awal dan kemudiannya, senantiasa dihinggapi sikap seperti itu. Dari sana pula lalu muncul berbagai cara untuk mengejawantahkan pengagungannya terhadap sesuatu yang transenden itu. Caranya dapat bermacam-macam dan dapat pula muncul lantaran berbagai hal; ketakutan, kegelisahan, keputusasaan, kerinduan atau bahkan kecintaan yang mendalam dan hasrat untuk jumpa dengan-Nya. Read the rest of this entry »

Tags: ,

29
Oct

PETA KONSTELASI PENYAIR SUMATRA

   Posted by: MahaDewa    in Esai

Maman S Mahayana

Pertemuan penyair se-Sumatera (Aceh, Babel, Bengkulu, Jambi, Kepri, Lampung, Riau, Sumbar, Sumsel, Sumut) di Bengkalis, 17—19 Januari 2003, memperlihatkan, betapa sesungguhnya Sumatera masih menyimpan potensi yang kaya dan berlimpah. Kepenyairan Sumatera yang pernah mendominasi perjalanan sastra Indonesia sebelum dan awal merdeka –seperti yang pernah dibangun sastrawan Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan 45, hingga ke nama-nama Taufiq Ismail, Leon Agusta, Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabar, dan sederet panjang nama lain—sangat mungkin kini akan bangkit kembali. Read the rest of this entry »

Tags: ,

29
Oct

POTRET BETAWI DALAM PUISI-PUISI RIDWAN SAIDI

   Posted by: MahaDewa    in Esai

Maman S Mahayana

Sastra Betawi sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sastra Indonesia, selama ini berada dalam posisi marjinal, terpinggirkan. Padahal, jika kita merunut ke belakang, ke sejarah awal pertumbuhan kesusastraan Indonesia, maka boleh jadi embrio pembentukan sastra Indonesia justru dimulai dari sastra Betawi –kesusastraan Indonesia yang menggunakan bahasa Melayu—Betawi yang kemudian secara sepihak dikategorikan sebagai bacaan liar. Read the rest of this entry »

Tags: ,

29
Oct

ELAN VITAL PARA PENYAIR DEPOK

   Posted by: MahaDewa    in Esai

Maman S Mahayana

Depok sesungguhnya mempunyai sejarah panjang tentang riwayat perjalanan kota itu, termasuk perubahan dan perkembangan kehidupan sosial-budaya masyarakatnya, meski sebagai kota administratif relatif masih baru. Dalam perjalanannya yang panjang itu, Depok masih tetap menyimpan berbagai potensi: kekayaan alam, khasnya sejumlah situ (danau), meskipun beberapa di antaranya telah disulap menjadi perumahan. Potensi budaya menyangkut beberapa bangunan bersejarah peninggalan zaman kolonial Belanda dan berbagai kesenian tradisional yang hingga kini masih dipertahankan masyarakatnya. Read the rest of this entry »

Tags: ,

29
Oct

LORONG GELAP YANG MENGASYIKKAN

   Posted by: MahaDewa    in Esai

Maman S Mahayana

Hamparan semangat menggelegak. Manakala ia tak dapat ditahan dan pecah, seketika itu pula ekspresinya muncrat berhamburan, bercipratan, menerabas apa pun. Lalu hinggap di berbagai tempat yang dijawilnya sesuka hati. Mungkin sama sekali ia tak bermaksud melakukan tegur-sapa, say hello, atau bahkan juga gugatan. Ia sekadar hendak merepresentasikan gumpalan kegelisahan yang lama bersemayam dan mengeram dalam kerajaan gagasannya. Read the rest of this entry »

Tags: ,

22
Oct

MISTERI LAUT—PESONA LAUT

   Posted by: MahaDewa    in Esai

Maman S Mahayana

Laut adalah sebuah dunia yang penuh misteri. Ia kadang diperlakukan sebagai sesuatu yang kejam, dahsyat, dan membinasa. Dalam posisi yang demikian, hamparan lut laksana merepresentasikan kekuasaan Tuhan, dan manusia menjadi makhluk maha-Liliput di tengah dunia raksas Gulliver. Manusia menjadi sebutir pasir di hadapan hamparan pantai mahaluas. Maka, manakala laut mempertontonkan kedahsyatannya, tak ada kekuatan apa pun yang dapat mengajaknya kompromi. Read the rest of this entry »

Tags: ,

22
Oct

GERBONG GAGASAN MARHALIM ZAINIð

   Posted by: MahaDewa    in Esai

Catatan atas Antologi Langgam Negeri Puisi

Maman S. Mahayanaô

Hakikat puisi adalah citraan (imagi). Dengan kekuatan citraan itulah, penyair coba membangun pesan moral, ideologi, atau apapun dalam bahasa yang kemas, padat, dan langsung. Tentu saja di dalamnya ia juga coba menghadirkan nilai estetis yang mungkin hendak ditawarkannya. Read the rest of this entry »

Tags: ,

22
Oct

MUKJIZAT KOMUNIKASI DALAM ANTOLOGI “TAHI LALAT”

   Posted by: MahaDewa    in Esai

Maman S Mahayana

Salah satu ciri khas puisi adalah hadirnya apa yang disebut mukjizat komunikasi (the miracle of communication), begitu pandangan Cleanth Brooks –salah seorang tokoh penting dalam aliran kritik baru Amerika (the new criticism). Sebuah kekhasan yang ajaib; bagaimana sebuah kata atau serangkaian kata dalam puisi berpotensi menghadirkan sejumlah makna sesuai dengan konteksnya. Read the rest of this entry »

Tags: ,