Posts Tagged ‘Resensi’

5
Dec

KASTALIA: KECERMATAN DIKSI DODONG DJIWAPRADJA

   Posted by: MahaDewa    in Resensi

Maman S Mahayana

Dodong Djiwapradja, Kastalia, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1997), xiii + 117 halaman

Dalam sejarah kesusastraan Indonesia, nama Dodong Djiwapradja tidaklah terlalu menonjol dibandingkan Ajip Rosidi, Toto Sudarto Bachtiar atau Ramadhan KH. Meskipun demikian, Ajip Rosidi menempatkan Dodong sebagai salah seorang penyair Indonesia terkuat pada tahun 1960-an, di samping Rendra. Kiprahnya sendiri sebagai penyair dimulai sejak puisinya, “Cita-cita” dimuat majalah Gema Suasana (1948) yang waktu itu masih diasuh Chairil Anwar. Sejak itu, cerpen, esai, dan terutama puisinya banyak menghiasi majalah-majalah yang terbit tahun 1950-an dan awal tahun 1960-an. Read the rest of this entry »

Tags: ,

Maman S Mahayana

Hamid Jabbar, Super Hilang (Balai Pustaka, 1998), xii + 397 halaman

Puisi bukanlah caci-maki. Ia juga tidak sekadar ungkapan perasaan melankolis remaja yang cengeng. Seperti juga ragam karya sastra lainnya, sangat mungkin puisi dimanfaatkan sebagai alat untuk mengungkapkan kegelisahan penyair ketika ia mesti ber-hadapan dengan ketidakadilan, ketidakberdayaan atau manakala ia merindui cinta ilahiah. Oleh karena itu, di tangan penyair, puisi dapat menjadi semacam potret kehidupan atau ekspresi subjektif penyairnya sendiri. Read the rest of this entry »

Tags: ,

25
Nov

TAUFIQ ISMAIL: MENULIS DENGAN KEHARUAN HATI

   Posted by: MahaDewa    in Resensi

Maman S Mahayana

Taufiq Ismail, Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit 1—4 (Jakarta: Horison, 2008; xlii + 1076 hlm; xxxiv + 801 hlm; xxxii + 880 hlm; xxxviii + 101 hlm)

“Taufiq Ismail tak ingin memperingati usianya, tetapi perbuatannya. Sebab, hidup itu perbuatan,” begitu Fadli Zon, Ketua Panitia Peluncuran Buku Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit 1—4 (Jakarta: Horison, 2008; xlii + 1076 hlm; xxxiv + 801 hlm; xxxii + 880 hlm; xxxviii + 101 hlm) menegaskan semangat yang melandasi acara peluncuran keempat buku karya Taufiq Ismail (14 Mei 2008) di Aula Mahkamah Konstitusi, Jakarta. Keseluruhannya, keempat buku itu berjumlah 3004 halaman, termasuk halaman pelengkap dan indeks. Inilah rekor baru ketebalan buku karya seorang penyair. Read the rest of this entry »

Tags: ,

25
Nov

PERKEMBANGAN TEORI SASTRA MUTAKHIR

   Posted by: MahaDewa    in Resensi

Maman S Mahayana

D.W. Fokkema dan Elrud Kunne-Ibsch, Teori Sastra Abad Kedua Puluh, terjemahan J. Praptadihardja dan Kepler Silaban (Jakarta: Gramedia, 1988), xxiii + 281 halaman.

Perkembangan kritik sastra akademis di Indonesia dewasa ini, sesungguhnya berutang budi pada kritik sastra aliran Rawamangun. Terlepas dari segala kekurangannya, kritik Rawamangun telah menanamkan satu tradisi ilmiah dalam pengkajian sastra. Read the rest of this entry »

Tags: ,

25
Nov

AKROBAT KATA-KATA SANG RAJA MANTRA

   Posted by: MahaDewa    in Resensi

Maman S. Mahayana

Sutardji Calzoum Bachri, Isyarat (Yogyakarta: Indonesia Tera, 2007), xix + 505 halaman

“Menulis bagi saya adalah upaya untuk mengucap, suatu kata kerja yang memiliki makna khusus dalam kebudayaan Melayu” (hlm. vii). Begitulah Sutardji Calzoum Bachri (SCB) mengawali pengantar buku kumpulan esainya, Isyarat (Yogyakarta: Indonesia Tera, 2007, xix + 505 halaman). Selepas itu, kita disodori esai pembuka (hlm. xv—xvii) yang menegaskan pentingnya sastrawan mewartakan sikap kepengarangan, wawasan estetik, bahkan juga dasar filosofinya tentang seni. Kredo Puisi SCB dan pengantar Kapak yang fenomenal dan monumental itu, ditempatkan sebagai pintu gerbang memasuki lautan pikiran buku ini, dan kita dibawa berenang dalam dinamika ombak kata-kata. Read the rest of this entry »

Tags: ,

25
Nov

SIHIR YOUJIN: MENULIS DENGAN HATI

   Posted by: MahaDewa    in Resensi

Maman S. Mahayana

Youjin, Air Ajaib yang Merana, Alihbahasa: Wilson Tjandinegara. Jakarta: Perhimpunan Penulis Yin-Hua (Tionghoa—Indonesia), 2007, xii + 231 halaman.

Ketika bahasa –bahkan apa pun—diperlakukan dengan sentuhan cinta, maka yang memancar dari pengejawantahannya, tidak lain adalah aroma cinta itu sendiri. Tanpa sadar, ia menyelusup, menggoda hati, dan kita akan selalu gagal menolak pesonanya. Ketika cinta dan suasana hati dirangkaikan dalam larik kata-kata, dikemas dalam kalimat metaforis, yang muncul adalah bangunan teks yang menyihir. Suasana itulah yang begitu terasa saat menelusuri esai-esai Youjin, Air Ajaib yang Merana. Gaya bertuturnya kalem dan sejuk. Kita dibawa pada berbagai kisah biasa yang disajikan secara luar biasa. Read the rest of this entry »

Tags: ,

23
Nov

PROBLEM HUBUNGAN SASTRA DAN AGAMA?

   Posted by: MahaDewa    in Resensi

Maman S. Mahayana

Di tengah kesenyapan penerbitan buku-buku kritik dan ingar-bingar serbuan novel, antologi cerpen, antologi puisi dan, naskah drama, kehadiran buku Sastra dan Agama (Jakarta: Yayasan Ngali Aksara bekerja sama dengan Penerbit Penamadani, xxiv + 313 halanan) karya Marwan Saridjo ini, laksana gerimis di tengah kemarau panjang kritik sastra Indonesia. Lebih daripada itu, buku ini juga boleh dikatakan mengisi dahaga atas kerontangnya pembicaraan mengenai sastra Indonesia yang bercorak Islam. Read the rest of this entry »

Tags: ,

23
Nov

LUKA SEJARAH DALAM SAJAK-SAJAK PENYAIR RIAU?

   Posted by: MahaDewa    in Resensi

Maman S. Mahayana

Kultur Melayu dengan luka sejarah masa lalu, dianggap sebagai kecelakaan dengan akibat dan kepahitannya menjadi beban generasi sekarang. Dalam wilayah keindonesiaan, problem sosial itu tidak jarang ditempatkan sebagai bagian dari kebijakan sentralitas hubungan Jakarta—Daerah yang secara faktual malah memarjinalkan puaknya. Dominasi Jakarta, dirasakan sebagai monster. Akibatnya, kehidupan masyarakat persekitaran yang penuh koyak-moyak luka itu jadi pemandangan yang menggelisahkan. Dari sanalah tuntutan untuk bersuara nyaring hadir tidak sekadar sebagai tanggung jawab sosialnya, tetapi juga sebagai sebuah perjuangan sosio-kultural. Read the rest of this entry »

Tags: ,

23
Nov

NOVEL DENGAN SEMANGAT GURU SEJATI*

   Posted by: MahaDewa    in Resensi

Maman S. Mahayana?

Fakta adalah realitas yang terjadi dalam kehidupan ini. Sastra coba mengangkat realitas itu tidak sebagaimana adanya. Ia telah mengalami proses pemilahan dan pemilihan, seleksi dan rekayasa. Maka, realitas dalam sastra adalah fiksional. Ia seolah-olah realitas an sich. Padahal sesungguhnya realitas itu hanya berlaku dalam karya itu sendiri. Tak ada hubungan wajib pembaca mempercayainya atau tidak. Ia bebas diperlakukan apa saja. Sastra jadinya bagai bangunan yang bahan-bahannya dapat kita kenali berdasarkan fakta yang pernah atau mungkin terjadi. Read the rest of this entry »

Tags: ,

23
Nov

PETA SASTRA TAMADUN MELAYU

   Posted by: MahaDewa    in Resensi

Maman S Mahayana

Edi Sedyawati, dkk., Sastra Melayu Lintas Daerah, Jakarta: Pusat Bahasa, 2006, xii + 419 halaman.

“Tak kenal maka tak sayang.” Itulah yang terjadi pada dunia Melayu, khasnya yang menyangkut selok-belok ketamadunannya (peradaban). Dunia Melayu yang pernah dicitrakan para orientalis sebagai bangsa Timur –pribumi—yang serbaterbelakang, sesungguhnya menyimpan kekayaan tamadun yang agung. Sejak lama ketamadunannya itu wujud dan mendapat apresiasi yang tinggi dari bangsa-bangsa yang sudah lebih dulu menjadi salah satu pusat kebudayaan dunia. Read the rest of this entry »

Tags: ,