Tuesday, 24 April 2012 (12:03) | 81 views | 0 komentar | Print this Article

SEOLAH-OLAH KRITIK SASTRA Maman S Mahayana Esai “Kritik dan ‘Hama Sastra’” yang dimuat harian ini (PR, 19/9/2010), tak mubazir kiranya jika ditanggapi. Ia seolah-olah esai ‘kritik sastra’ yang enak dibaca, mengalir lancar memainkan bahasa. Tetapi, di sana-sini, ramai sesat nalar dan salah data. Tulisan ini coba mengembalikan duduk perkaranya ke jalan yang benar. Esai itu berangkat dari sebuah buku Damhuri Muhamad (DM), Darah Daging Sastra Indonesia (2010) yang memuat berbagai aspek sastra... (more...)
Tuesday, 24 April 2012 (11:59) | 67 views | 0 komentar | Print this Article

MENGGARAMI LAUT KRITIK SASTRA Maman S Mahayana Kesalahpahaman atas kritik sastra Indonesia telah membentuk sejarahnya sendiri. Bagaimanapun, latar belakang pendidikan dan tingkat apresiasi setiap pembaca, tidaklah seragam. Maka, simpang-siur pemikiran tentang kritik sastra Indonesia menggelinding, membentangkan perjalanannya yang panjang. Tanggapan atas buku Darah Daging Sastra Indonesia (2010), Damhuri Muhammad, adalah satu contoh. Semangat untuk menghasilkan kritik sastra khas Indonesia tahun 1980-an,... (more...)
Tuesday, 24 April 2012 (11:47) | 15 views | 0 komentar | Print this Article

MENULIS SEBAGAI IBADAH Oleh Maman S. Mahayana Karya sastra –dalam hal tertentu—bolehlah dianggap sebagai refleksi evaluatif pengarang atas problem sosial yang terjadi di sekitarnya. Boleh juga karya itu dipandang sebagai representasi kegelisahan sosio-kultural pengarang dalam memaknai simpang-siur peristiwa yang terjadi dalam kehidupan umat manusia. Dalam hal ini, pengarang biasanya hanya akan mengungkapkan realitas kehidupan berdasarkan pengalaman yang paling dekat dengan dirinya. Atau, menyampaikan... (more...)
MOHAMMAD FUDOLI ZAINI: CERPENIS SUFISTIK YANG TERABAIKAN
Tuesday, 24 April 2012 (11:45) | 35 views | 0 komentar | Print this Article

MOHAMMAD FUDOLI ZAINI: CERPENIS SUFISTIK YANG TERABAIKAN Oleh Maman S. Mahayana Jika kita mencermati dua buku A. Teuuw, Sastra Baru Indonesia I (Ende: Nusa Indah, 1980) dan Sastra Indonesia Modern II (Jakarta: Pustaka Jaya, 1989), maka kita akan sia-sia mencari nama Mohammad Fudoli Zaini. Agak mengherankan, kritikus sastra Indonesia yang berwibawa dan sangat berpengaruh itu, bisa luput menyinggung nama itu. Padahal, H.B. Jassin dalam Angkatan ’66: Prosa dan Puisi (Jakarta: Gunung Agung, 1976) pernah... (more...)
Thursday, 15 September 2011 (18:53) | 197 views | 3 komentar | Print this Article

MUDIK DI INDONESIA DAN KOREA * Maman S Mahayana * Mudik (dalam bahasa Indonesia) sekarang ini dimaknai sebagai pulang kampung; pergi menuju kampung halaman. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2005: hlm. 758) mencatat dua pengertian kata mudik: (1) (berlayar pergi, pergi) ke udik (hulu sungai, pedalaman); (2) (cak) pulang ke kampung halaman. Pengertian yang kedua ini sesungguhnya merupakan penyempitan makna dari kata mudik dalam pengertian pertama. Jadi, kata mudik secara etimologis telah mengalami... (more...)
Thursday, 15 September 2011 (18:35) | 328 views | 2 komentar | Print this Article
KEGELISAHAN SEORANG BETAWI * Maman S Mahayana * Betawi, Jakarta, Batavia, Jayakarta, Jacatra adalah nama-nama wilayah etnik, geografik, historis, dan administratif, bahkan juga lokalitas dalam lingkup budaya. Perbincangannya, tidak terhindarkan, meliputi kehidupan sosial-politik-budaya penduduk yang mendiami daerah itu. Di dalamnya, termasuklah komunitas etnik Betawi yang mengklaim sebagai penduduk asli di kawasan itu dengan sejarah panjang berada di belakangnya. Jakarta adalah wilayah administratif... (more...)
SUTAN BAGINDA DI ANTARA PEREMPUAN MELAYU, PAPUA, DAN INDIA
Thursday, 15 September 2011 (18:30) | 84 views | 3 komentar | Print this Article

SUTAN BAGINDA DI ANTARA PEREMPUAN MELAYU, PAPUA, DAN INDIA Maman S Mahayana Sastera lahir dari sebuah gagasan, pemikiran, ide. Meski begitu, gagasan, pemikiran, ide pengarang itu, tidak serta-merta tumpah begitu saja sebagaimana adanya. Di sana, ada proses pengendapan, penghayatan, dan evaluasi berdasarkan pengalaman pribadi pengarang. Maka, karya sastera tidak sekadar serpihan sebongkah gagasan, pemikiran atau ide, melainkan wujud sebagai kolaborasi, percampurbauran antara gagasan, pemikiran, dan... (more...)
RUH DAN IDEOLOGI PUISI NUSANTARA
Thursday, 15 September 2011 (18:15) | 453 views | 0 komentar | Print this Article
RUH DAN IDEOLOGI PUISI NUSANTARA Maman S Mahayana * Pembuka Kata Perbincangan tentang “Ruh dan Ideologi Puisi Nusantara” ibarat pencarian jalan pulang dalam sebuah rimba-raya yang luas, penuh belukar, dan unik; khas. Perbincangan itu tidak sekadar upaya “menemukan” kembali masa lalu yang belum terang, mungkin agak gelap, dan boleh jadi juga sesat, tetapi punya posisi penting sebagai tindak meretas jalan ke depan yang lebih sesuai dengan jiwa dan karakteristik jati diri pemilik sah negeri... (more...)
Monday, 23 May 2011 (12:42) | 191 views | 0 komentar | Print this Article

ELAN VITAL PARA PENYAIR DEPOK Maman S Mahayana Depok sesungguhnya mempunyai sejarah panjang tentang riwayat perjalanan kota itu, termasuk perubahan dan perkembangan kehidupan sosial-budaya masyarakatnya, meski sebagai kota administratif relatif masih baru. Dalam perjalanannya yang panjang itu, Depok masih tetap menyimpan berbagai potensi: kekayaan alam, khasnya sejumlah situ (danau), meskipun beberapa di antaranya telah disulap menjadi perumahan. Potensi budaya menyangkut beberapa bangunan bersejarah... (more...)
Sunday, 13 March 2011 (12:09) | 625 views | 2 komentar | Print this Article

MOMENTUM SASTRA MONUMENTAL Maman S Mahayana Sastra tidak datang dari langit. Tidak juga diturunkan para malaikat. Sastra lahir dari proses yang kompleks. Ke belakang, ada kegelisahan sastrawan dalam menyikapi situasi sosial di sekitarnya. Ke depan, ada visi tertentu yang menjadi tujuan. Pada saat karya itu terbit, ada momentum. Momentum inilah yang sering kali justru membawa karya itu menjadi monumen. Sejarah telah berbicara banyak mengenai itu. Puisi Muhammad Yamin, “Indonesia Tumpah Darahku”... (more...)












