Tuesday, 25 November 2008 (19:12) | 22 views | 0 komentar | Print this Article
Maman S Mahayana Perjalanan cerpen Indonesia mutakhir, terutama selepas pemberlakuan otonomi daerah, tampak makin menunjukkan peta kultur keindonesiaan yang lebih beragam. Keberagaman itu seperti mencelat begitu saja ketika persoalan etnisitas diangkat dan menjadi tema cerita. Kehidupan perkotaan dengan kecenderungan tokoh-tokohnya yang teralienasi atau tak punya identitas kultural yang kerap ditawarkan para penulis yang lahir dan besar di tengah masyarakat perkotaan—metropolis, tidak lagi mendominasi... (more...)
Tuesday, 25 November 2008 (18:53) | 29 views | 0 komentar | Print this Article
Maman S Mahayana Chandra Johan: pelukis yang saya kenal ketika kami bersama di Dewan Kesenian Jakarta (2003—2005). Suatu saat, dalam sebuah obrolan santai, ia memperkenalkan sejumlah koleksi lukisannya. Amboi! Lukisan apakah gerangan? Bagaimana mungkin, sesuatu—lukisan-lukisan itu— yang belum saya pahami maknanya, tiba-tiba menciptakan serangkaian keterpanaan. Saya benci lukisan-lukisan itu. Sebab, tanpa kompromi seketika ia membelit saya pada ketakberdayaan: saya tak berdaya menghindar aura... (more...)
Tuesday, 25 November 2008 (18:46) | 109 views | 0 komentar | Print this Article
Maman S Mahayana Datanglah ke Bengkalis dan bertanyalah tentang zapin. Maka boleh jadi, sesiapa pun warga masyarakat di sana, akan menjawabnya enteng saja, seperti seseorang yang mewartakan identitasnya. Tetapi boleh jadi juga jawabannya panjang lebar, lengkap, sambil sekalian menunjukkan sejumlah gerakan yang khas, yang gemulai, yang rancak atau yang patah-patah, meski sangat berbeda dengan breakdance. Antusiasme! Itulah kesimpulan yang akan kita peroleh ketika pertanyaan tentang zapin jatuh di... (more...)
Tuesday, 25 November 2008 (18:15) | 20 views | 0 komentar | Print this Article
Maman S Mahayana Gerakan mahasiswa yang kemudian bergelombang menjadi badai besar reformasi, makin menegaskan kita, betapa gejolak kaum muda dan idealisme mahasiswa kerap menjadi motor penggerak yang dapat melibas dan menumbangkan kekuasaan manusia sekuat—kokoh apa pun. Moncong senjata, intimidasi, tekanan, dan serangkaian teror menjadi tidak berarti sama sekali bagi perjuangan anak-anak muda itu. Maka berbagai cara apa pun yang digunakan untuk membekap—bungkam semangat dan idealisme para pemuda... (more...)
ANTARA CINTA, KEKUASAAN, DAN MARWAH
Tuesday, 25 November 2008 (18:07) | 37 views | 0 komentar | Print this Article
Maman S. Mahayana Kekuasaan cenderung korup, begitulah pemeo orang bijak yang memandang kekuasaan sebagai sesuatu yang bisa mendatangkan kebaikan, sekaligus juga keburukan. Di tangan orang yang telengas, kekuasaan dapat menghancurkan kemanusiaan. Sebaliknya, di tangan orang bijak, sangat mungkin ia memancarkan kemaslahatan dan kebaikan bagi masyarakat. Sesungguhnya, kekuasaan seperti sebuah garis tipis yang berada di perbatasan kebaikan dan keburukan. Sekali waktu, ia lantang meneriakkan keadilan... (more...)
SUARA KEJUJURAN DAN KESEDERHANAAN
Tuesday, 25 November 2008 (17:58) | 22 views | 0 komentar | Print this Article
APRESIASI ATAS ANTOLOGI PUISI DWIBAHASA MENGIKUTI PILIHAN HATI KARYA WILSON TJANDINEGARA* Maman S. Mahayana* Hakikat puisi adalah citraan (imagery), sebuah proses tindakan mental yang terjadi dalam pikiran. Ia mendorong terjadinya penciptaan bayangan visual yang hadir lantaran ada sesuatu yang menyentuh saklar memori untuk mengaitkannya pada sesuatu yang lain. Citraan merangsang memori, asosiasi, dan pikiran kita untuk membayangkan atau memvisualisasikan sesuatu, peristiwa atau hal tertentu sesuai... (more...)
POTRET MASYARAKAT PASCATRADISIONAL
Tuesday, 25 November 2008 (17:51) | 22 views | 0 komentar | Print this Article
Maman S. Mahayana Jika sastra dipercaya merupakan potret sosial yang mengusung ruh kebudayaan masyarakatnya, maka boleh jadi antologi cerpen karya Fakhrunas MA Jabbar ini merepresentasikan kebalau kegelisahan masyarakat Melayu masa kini. Ia berada dalam sebuah garis demarkasi antara keagungan masa lalu dan kesuraman masa depan. Ia bagai berada di tengah kehidupan yang tak dapat melepaskan diri dari tradisi, mitos-mitos masa lalu, dan cengkraman sejarah puak Melayu di satu pihak, dan di pihak lain,... (more...)
SEMANGAT MULTIKULTURAL DAN EMPATI PADA KAUM MARJINAL
Tuesday, 25 November 2008 (17:42) | 90 views | 0 komentar | Print this Article
Maman S. Mahayana Semangat multikulturalisme dan pemihakan terhadap kaum marjinal, itulah kesan yang menonjol yang dapat kita tangkap ketika mencermati cerpen-cerpen Pudji Isdriani kali ini. Meski semangat pembelaan atas kaum marjinal dan usaha untuk mengangkat peran kaum perempuan sudah tampak dalam antologi cerpennya yang terdahulu (Hati Seorang Ibu, 2001; Reinkrnasi Titis, 2003; Cokelat dan Sepotong Dosa, 200; dan sebuah novelnya, Memory in Sorong, 2005), kali ini gaya bertuturnya seperti sengaja... (more...)
SIMBOL WAKTU SEBAGAI REPRESENTASI IDEOLOGI
Tuesday, 25 November 2008 (17:27) | 29 views | 0 komentar | Print this Article
Maman S. Mahayana Fantasi-fantasi yang bertebaran pada masa kanak-kanak, konon, secara tidak sadar akan muncul kembali pada masa dewasa dalam bentuk yang lain. Jika pada masa kanak-kanak kita dihinggapi ketakutan akan hantu, bayangan nenek sihir, manusia bertaring yang akan menculik anak-anak nakal yang suka menangis, makhluk raksasa pemangsa manusia, atau sesosok makhluk yang dicitrakan begitu menakutkan, misalnya, pada masa dewasa ia akan berubah wujud menjadi ketakutan terhadap sesuatu yang dibayangkan... (more...)
PROBLEM UNIKUM DAN UNIVERSALITAS
Tuesday, 25 November 2008 (17:20) | 22 views | 0 komentar | Print this Article
Maman S. Mahayana Cerpen Indonesia, kini, makin menunjukkan jati dirinya sebagai bagian dari kultur keindonesiaan. Ia tidak hanya datang dari berbagai wilayah yang selama beberapa dekade seolah-olah belum terpetakan, melainkan mengada lantaran di belakangnya ada kegelisahan kultural. Kegelisahan, bahkan kepedihan dan sekaligus juga kemarahan yang datang dari berbagai macam komunitas itu, memang selama ini senantiasa ditenggelamkan oleh kejahatan sentralitas. (more…) Read More →












