KEINDONESIAAN IDENTITAS INDONESIA
Tuesday, 17 November 2009 (11:13) | 1,309 views | 2 komentar | Print this Article

Maman S. Mahayana Tulisan Seno Gumira Ajidarma, “Keindonesiaan” (Kompas, 12 Februari 1995), sungguh cerdas dan menarik untuk didiskusikan. Tulisan ini mencoba untuk memberi catatan kecil terhadapnya. Dalam berkesenian, nama (identitas) sememangnya tidaklah lebih penting dari karyanya sendiri. Nama besar dengan karya picisan, bukanlah sebuah prestasi yang membanggakan. Sebab, yang penting adalah: dapatkah karyanya menjadi sebuah monumen hingga nama sang pencipta menjadi masyhur. Kemasyhuran nama... (more...)
Tuesday, 17 November 2009 (10:51) | 866 views | 0 komentar | Print this Article

Maman S Mahayana DIKTATOR. Ini sebuah kata yang menakutkan. Maknanya pun bermacam- macam, bergantung konteks, situasi dan mayarakat pemakai. Secara etimologis, kata ini berasal dari bahasa Latin, dictatore, dictator (oris), dictare, dictatura (ae). Maknanya perintah, komandan, pemimpin. Dalam kamus Latin—Indonesia (Ver Hoeven dan Marcus Carvallo, 1969), ada lima makna menyertai kata diktator, yaitu orang yang mengimlakan, yang berperintah, panglima tertinggi, diktator, panitera, pengarang, penggubah.... (more...)
Tuesday, 17 November 2009 (10:48) | 100 views | 0 komentar | Print this Article

Maman S. Mahayana Keberpihakan menafikan netralitas. Ia muncul lantaran ada kepentingan subjektif. Dalam hal ini, objektivitas menjadi tidak lagi penting. Mengingat keberpihakan dilatarbelakangi kepentingan subjektif, maka pencapaian tujuan yang melatardepaninya. Di sini, segala cara cenderung menjadi sah, sejauh target dapat diraih. (more…) Read More →
Saturday, 14 November 2009 (21:20) | 212 views | 3 komentar | Print this Article

From: Hankuk University of Foreign Studies <eat@hufs.ac.kr> Subject: Honorable Professor Maman Mahayana To: “Maman Mahayana” <maman_s_mahayana@yahoo.com> Date: Thursday, November 12, 2009, 4:52 PM November 9, 2009 To: Honorable Professor Maman Mahayana Greetings, Professor Maman Mahayana my name is Chul Park and I am the President of Hankuk University of Foreign Studies. You are probably busy with lecturing and research as... (more...)
APRESIASI ATAS PUISI PARA PENYAIR YANG TERCECER
Saturday, 14 November 2009 (21:15) | 1,223 views | 2 komentar | Print this Article

KEGELISAHAN TANDA HIDUP Maman S Mahayana Kegelisahan tanda hidup: itulah yang memaksa manusia terus memelihara dinamika dan berkembang dengan berbagai kreativitasnya. Itulah yang menyebabkan para penulis—sastrawan, terus berkarya sepanjang usianya. Tak ada kata pensiun bagi penulis selama nyawanya belum melayang. Dan kegelisahan itu lahir dari sebuah elan yang datang bukan sekadar fanta rhei, segalanya mengalir dinamis, melainkan juga mengalir dengan semangat membangun sesuatu yang baru, mencipta... (more...)
Saturday, 14 November 2009 (21:11) | 139 views | 0 komentar | Print this Article

(Diindonesiakan dan diberi anotasi oleh Maman S Mahayana) Usman Awang Bulan baru mengambang. Awan larat menabiri langit dengan bentuk-bentuk yang berupa manusia, binatang kuda, pulau-pulau dan gunung-gunung, sangatlah indah kelihatannya. Malah bertambah indah bila cahaya perak menyapu sekeliling bulan yang begitu rupawan tersenyum melimpahkan sinarnya itu. Di sebuah halaman kelihatan ramai anak-anak muda sedang belajar ilmu silat, seni pusaka yang tak usang-usang, tari pahlawan kebanggaan nenek moyang.... (more...)
Sunday, 1 November 2009 (09:46) | 193 views | 1 komentar | Print this Article
MEMBACA PANORAMA CERPEN KOREA Maman S. Mahayana Apa yang dikatakan Alexandre Sergevich Pushkin (1799—1837), tokoh pembaharu kesusastraan Rusia, tentang seorang penerjemah? “Penerjemah itu laksana kuda beban. Ia membawa harta kebudayaan sebuah bangsa dari satu negeri ke negeri lain.” Begitulah, berkat peran yang dimainkan seorang penerjemah, bangsa yang berada di negeri lain itu, serta-merta dapat menikmati harta kebudayaan bangsa lain. Terjadi pengenalan dan pemahaman tentang kebudayaan lain... (more...)
BERCINTA DENGAN ALAM, BERCINTA DENGAN TUHAN?
Thursday, 29 October 2009 (11:23) | 157 views | 0 komentar | Print this Article
Maman S Mahayana Puisi (: sastra), bagi Malaysia adalah spirit kebudayaan. Ia dapat dimaknai sebagai alat perjuangan kebudayaan; maruah kemelayuan. Pada dasawarsa 1950-an, misalnya, sastra memancarkan semangat nasionalisme. Kemerdekaan Indonesia telah memberi inspirasi untuk melakukan hal yang sama. Maka, gerakan kebudayaan itu kemudian menjadi gerakan kebangsaan. Mengingat tumbuhnya nasionalisme di Malaysia itu sejak awal dimainkan para sastrawan dan guru—seperti juga yang terjadi di Indonesia—tidak... (more...)
MEMBINCANGKAN TIGA CERPEN GUS MUS
Thursday, 29 October 2009 (11:21) | 435 views | 0 komentar | Print this Article
Maman S Mahayana Ketika tahun 1970-an sastra Indonesia dilanda semangat eksperimentasi, sejalan dengan gerakan “kembali ke akar, kembali ke tradisi” sebagaimana yang diusung Abdul Hadi WM, kisah-kisah dunia jungkir balik dalam prosa, termasuk di dalamnya cerita pendek (cerpen), seperti menemukan pembenaran estetik. Absurdisme, melalui perkenalkannya dengan filsafat eksistensialisme, dipandang sebagai representasi dunia jungkir balik itu. Belakangan disadari, bahwa kisah-kisah supernatural dalam... (more...)
PANTUN SEBAGAI POTRET SOSIAL BUDAYA TEMPATAN
Thursday, 29 October 2009 (10:52) | 1,303 views | 0 komentar | Print this Article
Perbandingan Pantun Melayu, Jawa, Madura, dan Betawi Maman S Mahayana Pantun bagi masyarakat di kawasan Nusantara ibarat sesuatu yang begitu dekat, tetapi kini terasa jauh ketika budaya populer (low culture) makin menjadi primadona dalam industri hiburan. Dalam kondisi itu, pantun kini laksana pepatah, tak kenal maka tak sayang. Itulah yang terjadi pada pantun. Seolah-olah, ia hanya produk masa lalu yang sudah usang dan tiada berguna. Bahkan, bagi anak-anak muda di Jakarta dan beberapa kota besar... (more...)












